Tradisi dan Perubahan: Kenapa Budaya Nggak gampang Hilang?
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Pernah nggak sih kamu scroll TikTok terus nemu anak muda pakai batik padukan sepatu chunky ala idol K-pop? Atau lihat teman kuliahmu nge-vlog upacara adat kampungnya tapi editingnya niru gaya video estetik luar negeri?
Nah, itu bukan kebetulan. Itu potret kecil dari drama besar yang lagi terjadi di sekitar kita: pertarungan diam-diam antara tradisi dan perubahan.
Fenomena yang Lagi Kejadian Sekarang
Di banyak daerah, anak muda justru jadi ujung tombak “penyelamatan” budaya lokal, tapi dengan cara yang nggak melulu klasik.
Ada yang bikin fashion show produk lokal, ada yang bikin konten campur-campur antara kain tradisional dan gaya kasual kekinian.
Salah satu riset bahkan menemukan banyak anak muda dengan sengaja memadukan kain tradisional seperti batik dengan gaya busana kasual ala idola K-pop, sebagai strategi adaptasi budaya yang kreatif. Jadi bukan tradisi yang mati, tapi tradisi yang lagi ganti kostum.
Ini Bukan Fenomena Baru, Sosiologi Udah Punya Namanya
Ilmuwan sosial nyebut ini hibridisasi budaya atau glokalisasi proses di mana budaya global dan lokal nggak saling membunuh, tapi malah bercampur jadi sesuatu yang baru.
Stuart Hall pernah bilang identitas itu bukan barang jadi yang statis, tapi terus “terproduksi ulang” tiap kali bertemu budaya lain.
Jadi kalau kamu lihat anak muda pakai jarik buat OOTD, itu bukan pengkhianatan budaya itu proses identitas yang sedang bekerja secara aktif.
Ada Pergeseran, Tapi Nggak Sesederhana “Hilang”
Nah ini bagian serunya. Riset menunjukkan nilai-nilai lama kayak gotong royong dan penghormatan tradisi memang mulai bergeser ke arah individualisme dan pragmatisme di kalangan Gen Z, dan sejumlah upacara adat maupun kesenian tradisional mulai kehilangan peminat karena mereka anggap kurang relevan.
Tapi di sisi lain, nggak semua Gen Z pasrah begitu aja. Ada kelompok yang justru sadar dan aktif melestarikan, apalagi kalau mereka tergabung dalam komunitas budaya riset dari Badan Bahasa menemukan generasi muda yang aktif di komunitas budaya justru lebih cenderung mempertahankan identitas budayanya.
Jadi polanya bukan “tradisi vs modernitas”, tapi lebih ke “tradisi yang butuh panggung baru”. Kalau nggak kita kasih ruang buat tampil relevan, ya wajar makin mereka tinggalkan.
Proyeksi 5 Tahun ke Depan: Budaya Bakal Makin “Remix”
Kalau tren ini kita bawa ke depan, ada beberapa hal yang kemungkinan besar bakal terjadi:
- Budaya makin “hybrid” secara visual dan gaya hidup batik, wastra, dan simbol lokal bakal makin sering nongol di fashion, musik, sampai desain produk digital, tapi dengan wajah yang jauh lebih kasual dan pop.
- Konten kreator jadi kurator budaya baru. Peran yang dulu tokoh adat atau guru sekolah pegang. Sekarang sebagian pindah ke kreator TikTok/Instagram yang bikin budaya lokal terasa “kece” buat mereka tonton.
- Kesenjangan makin lebar antara budaya yang “viral-able” dan yang nggak. Budaya yang gampang mereka kemas visual (tarian, kain, kuliner) punya peluang bertahan lebih besar bandingkan budaya yang butuh konteks panjang (filosofi adat, bahasa daerah minoritas).
- Bahasa daerah tetap jadi titik paling rawan. Kalau nggak ada intervensi serius, penurunan penggunaan bahasa daerah sehari-hari kemungkinan terus berlanjut, meski simbol visual budaya justru makin eksis.
Jadi, Harus Ngapain?
Ini bukan cuma PR generasi tua yang “nyuruh-nyuruh” anak muda cinta budaya. Justru sebaliknya:
- Buat tradisi jadi relevan, bukan sekadar terwariskan mentah-mentah. Edukasi budaya yang komunikatif dan kontekstual jauh lebih nempel bandingkan sekadar hafalan atau kewajiban seremonial.
- Manfaatkan panggung digital secara sadar, bukan sekadar ikut tren tapi benar-benar mengangkat makna di baliknya.
- Dukung komunitas budaya lokal karena riset udah nunjukin, keterlibatan komunitas adalah salah satu faktor paling kuat yang bikin identitas budaya bertahan.
- Jangan paksa generasi muda milih: tradisi ATAU modern. Yang justru terbukti berhasil adalah ketika keduanya jalan bareng rasional tapi tetap berakar.
Identitas budaya itu ternyata nggak sekadar bertahan karena dijaga ketat-ketat, tapi karena terus dikasih ruang buat berubah bentuk tanpa kehilangan makna. Jadi lain kali kamu lihat batik dipadu sneakers, jangan buru-buru bilang itu “budaya yang luntur”. Bisa jadi itu justru cara budaya kita bertahan hidup di zaman yang serba cepat ini.