Dinamika Pengetahuan Digital dan Ketimpangan Akses Terkini
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba tebak, dari total penduduk Indonesia, berapa yang udah nyemplung ke dunia digital? Angkanya lumayan gede 235 juta orang, sekitar 82% populasi, sudah jadi pengguna internet.
Tapi jangan buru-buru tepuk tangan dulu. Data APJII menunjukkan angka pengguna internet Indonesia mencapai 235,2 juta orang pada 2026, atau sekitar 82% dari total populasi, meningkat 1,06% banding tahun sebelumnya.
Realita hari ini: kita “online” tapi nggak semua nyampe
Kedengarannya keren, tapi ada satu fakta yang bikin dahi mengernyit: Indonesia masuk jajaran negara dengan populasi terbanyak yang masih belum tersentuh akses internet, dengan sekitar 55 juta warga yang belum terkoneksi ke dunia maya. Bayangin, itu hampir dua kali lipat penduduk Malaysia yang “invisible” secara digital. www.idnfinancials.com +2
Belum lagi soal siapa yang online di mana. Kesenjangan akses internet Indonesia masih nyata terjadi, terutama antara kota-kota besar dan wilayah pelosok seperti desa di ujung timur Indonesia.
Dan datanya makin gamblang: Jawa mendominasi dengan penetrasi 85,95% dan kontribusi 58,24% dari total pengguna internet nasional, sementara wilayah Maluku dan Papua ada di posisi paling rendah. Jadi, “Indonesia online” itu sebenarnya lebih tepat kita sebut “Jawa online, sisanya nyusul”. detikdetik
Dari digital divide ke digital stratification
Nah, di sinilah persoalannya. Dulu, ahli-ahli kayak Jan van Dijk bicara soal digital divide sekadar siapa punya akses, siapa nggak.
Tapi sekarang, ceritanya udah naik level jadi digital stratification: bukan cuma soal siapa yang connect. Tapi siapa yang bisa memanfaatkan koneksi itu buat naik kelas sosial, dan siapa yang cuma scroll-scroll doang. Tanpa dapet manfaat ekonomi atau pendidikan apa pun.
Ini yang bikin ketimpangan digital jadi lebih licin dari yang kelihatan. Orang kota punya fiber optik dan skill literasi digital, jadi internet buat mereka itu alat produktif belajar online, kerja remote, jualan di marketplace.
Sementara di daerah dengan sinyal seadanya, internet cuma jadi alat konsumsi pasif.
Ini namanya second-level digital divide kesenjangan bukan lagi soal kabel, tapi soal kemampuan mengubah akses jadi kapital (meminjam istilah Bourdieu. Kapital digital jadi kapital sosial-ekonomi baru).
Infrastruktur oke, tapi kecepatan dan pemerataan masih kacau
Pemerintah emang lagi ngebut bikin akses internet merata. Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan seluruh desa di Indonesia terhubung internet pada 2026. Meski masih ada sekitar 2.500 desa yang belum punya akses sama sekali.
Tapi masalahnya bukan cuma “terhubung atau tidak” kualitas koneksinya juga jomplang. Berdasarkan Ookla Speedtest Global Index Mei 2026. Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 101 negara untuk kecepatan internet seluler, dengan rata-rata cuma 62,54 Mbps. Padahal target pemerintah sendiri pengen nyampe 100 Mbps merata di 2028. bisnisidnfinancials
Yang menarik, skor transformasi digital nasional juga naik, tapi pelan banget.
Komdigi bersama LPM UI mencatat skor transformasi digital nasional cuma naik dari 52,95 di 2023 jadi 54,29 di 2024 kenaikan setahun yang bisa bilang jalan di tempat kalau bandingkan target besar pemerintah.
Dan yang paling relevan buat kita ngomongin ketimpangan. Pilar jaringan dan infrastruktur tumbuh paling pesat, tapi pemanfaatannya sendiri masih belum optimal.
Artinya, kabelnya udah nyampe, tapi “otaknya” literasi digital masyarakat belum ikut lari. bisnisbisnis
Makin merata secara fisik, makin timpang secara kualitas
Kalau tren ini jalan terus, gue berani nebak: di 2030-2031, hampir semua desa bakal punya sinyal.
Tapi ketimpangan nggak bakal hilang dia cuma pindah bentuk. Dari “siapa yang punya internet” jadi “siapa yang punya skill AI, literasi data, dan kemampuan produksi konten digital”.
Anak-anak Gen Alpha di kota bakal tumbuh dengan AI tutor personal, sementara di daerah terpencil, internet mungkin baru mereka pakai buat nonton video pendek doang.
Ini yang disebut sosiolog sebagai Matthew Effect di ranah digital: yang udah unggul makin unggul, yang tertinggal makin susah ngejar.
Terus, kita harus ngapain?
Buat akademisi dan mahasiswa: riset soal literasi digital daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) itu ladang subur yang masih sepi peneliti jangan cuma bahas Jakarta terus.
Buat Gen Z: jangan cuma jadi konsumen konten, coba mulai produksi bikin UMKM lokal makin melek digital, atau volunteer ngajar literasi digital di kampung sendiri.
Dan buat kita semua: kesenjangan digital itu bukan cuma soal sinyal, tapi soal siapa yang punya kuasa buat nentuin masa depan siapa.
Kalau nggak diintervensi dari sekarang, gap-nya bakal makin sulit dikejar dan itu artinya, ketimpangan sosial yang lama cuma pindah baju jadi ketimpangan digital.