Marketplace ke Pasar Tradisional: dari Jalanan ke Algoritma

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Marketplace Menggantikan Pasar Tradisional: Belanja dari Jalanan ke Algoritma

Coba ingat, kapan terakhir kali kita benar-benar pergi ke pasar untuk membeli barang yang sebenarnya bisa kita pesan sambil rebahan?

Hari ini, kita tidak perlu berjalan menyusuri lorong pertokoan, bertanya harga kepada penjual, atau membawa kantong belanja yang berat. Cukup buka ponsel, ketik nama barang, bandingkan harga, klik, bayar, lalu menunggu kurir datang ke depan rumah. Praktis? Jelas. Tetapi di balik kenyamanan itu, ada perubahan sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar cara kita berbelanja.

Marketplace perlahan sedang mengubah wajah pasar tradisional.

Ketika Pasar Tidak Lagi Memerlukan Bangunan

Dulu, pasar adalah ruang sosial. Orang datang bukan hanya untuk membeli cabai, ikan, pakaian, atau kebutuhan rumah tangga. Di sana ada tawar-menawar, percakapan, gosip, pertemuan, bahkan hubungan sosial yang berlangsung bertahun-tahun.

Sekarang, sebagian aktivitas itu berpindah ke layar.

Berdasarkan survei APJII, penetrasi internet Indonesia pada 2025 telah mencapai sekitar 80,66 persen, atau lebih dari 229 juta penduduk yang telah terhubung dengan internet. Artinya, pasar digital kini memiliki pintu masuk langsung ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Di sisi lain, BPS mencatat perkembangan e-commerce terus meningkat. Jumlah usaha e-commerce pada 2024 tumbuh 15,30 persen bandingkan dengan tahun sebelumnya. Aktivitas perdagangan digital juga masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, menunjukkan bahwa transformasi pasar tidak berlangsung secara merata.

Dari Tawar-Menawar ke Algoritma

Dalam perspektif sosiologi digital, perubahan ini menarik. Marketplace bukan sekadar pasar yang pindah ke internet. Ia menciptakan aturan sosial baru.

Di pasar tradisional, hubungan antara penjual dan pembeli terbangun melalui interaksi langsung. Penjual mengenali pelanggan. Pembeli punya langganan. Harga bahkan bisa berubah karena hubungan sosial.

Di marketplace, hubungan tersebut tergantikan oleh rating, ulasan, voucher, jumlah pengikut, gratis ongkir, dan algoritma.

Siapa yang paling murah, paling cepat mengirim barang, atau paling sering muncul di layar, berpeluang mendapatkan pembeli lebih banyak. Dengan kata lain, kekuasaan dalam perdagangan mulai bergeser: dari kemampuan berkomunikasi secara langsung menuju kemampuan memenangkan perhatian di dalam sistem digital.

Inilah yang menarik sekaligus problematis. Kita sering merasa bebas memilih produk, padahal sebagian pilihan kita sebenarnya telah disusun oleh algoritma.

Pasar Digital: Besar, Cepat, tetapi Tidak Selalu Adil

Data BPS menunjukkan nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2023 mencapai sekitar Rp1.100,87 triliun, meningkat 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini memperlihatkan betapa cepatnya ekonomi digital berkembang.

Namun, pertumbuhan ekonomi digital tidak otomatis berarti semua orang menang.

Pedagang kecil yang sebelumnya cukup membuka kios kini harus memahami fotografi produk, iklan digital, pengiriman, layanan pelanggan, hingga strategi promosi. Mereka tidak hanya bersaing dengan toko di sebelah, tetapi dengan ribuan penjual dari berbagai daerah.

Di sinilah muncul apa yang dalam sosiologi digital dapat disebut sebagai kesenjangan adaptasi. Mereka yang memiliki modal teknologi, literasi digital, jaringan distribusi, dan kemampuan membaca pasar akan melaju lebih cepat. Sementara yang tertinggal berisiko semakin sulit terlihat.

Masalahnya bukan sekadar siapa yang memiliki barang terbaik. Dalam ekonomi platform, pertanyaannya berubah menjadi: siapa yang paling terlihat?

Lima Tahun Lagi, Seperti Apa Pasar Kita?

Dalam dua hingga lima tahun mendatang, batas antara pasar tradisional dan marketplace kemungkinan semakin kabur.

Pedagang pasar akan semakin banyak menggunakan WhatsApp, media sosial, pembayaran digital, dan platform marketplace. Konsumen mungkin datang ke pasar bukan lagi untuk seluruh kebutuhan belanja, tetapi untuk pengalaman sosial dan produk tertentu.

Sementara itu, kecerdasan buatan akan ikut masuk lebih jauh. AI dapat membantu pedagang menentukan harga, membaca tren, membuat promosi, bahkan memprediksi barang yang akan diminati.

Tetapi ada satu pertanyaan penting: apakah teknologi akan memperkuat pedagang kecil, atau justru membuat mereka semakin bergantung pada platform besar?

Jawabannya bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang.

Jangan Biarkan Pasar Tradisional Sekadar Menjadi Kenangan

Bagi akademisi, perubahan ini adalah laboratorium sosial yang sangat menarik untuk diteliti. sementara untuk mahasiswa, inilah kesempatan memahami bahwa teknologi selalu membawa dampak sosial, bukan hanya kecanggihan. Bagi Gen Z, kemampuan menggunakan teknologi perlu dibarengi kesadaran kritis tentang bagaimana platform bekerja.

Pasar tradisional tidak harus mati. Ia harus beradaptasi.

Digitalisasi seharusnya tidak dimaknai sebagai mengganti manusia dengan aplikasi. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana teknologi membantu pedagang kecil menjadi lebih kuat, bukan sekadar menjadi pengguna yang bergantung pada algoritma.

Sebab pada akhirnya, masa depan pasar bukan hanya soal di mana kita membeli barang.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang akan menguasai pasar ketika semua orang mulai berbelanja melalui layar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *