Mengapa Konflik Selalu Hadir dalam Kehidupan Bersama?

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Mengapa Konflik Selalu Hadir dalam Kehidupan Bersama?

Coba deh scroll timeline kamu sekarang. Ada aja yang lagi ribut: warganet vs kebijakan pemerintah, petani vs korporasi, atau sekadar war komentar soal harga cabai naik lagi. Kayaknya nggak ada hari tanpa drama sosial ya?

Nah, ini bukan kebetulan. Dan bukan juga tanda dunia lagi “rusak”. Ini fenomena sosial yang sangat bisa kita jelaskan  dan sosiologi udah membahasnya sejak lama.

Fenomena yang Terjadi

Indonesia belakangan ini panas. Bukan cuma soal cuaca, tapi soal suasana sosial. Media internasional bahkan sempat menggambarkan situasi publik Indonesia sebagai nyaris mendidih. Memicu protes yang bermunculan karena beban hidup makin berat sementara pelayanan publik terasa makin jauh dari kebutuhan rakyat.

Konflik agraria juga nggak kalah ramai. Ratusan letusan konflik lahan tercatat sepanjang tahun lalu, berdampak ke ratusan ribu keluarga dan ratusan desa. Kasus kriminalisasi terhadap warga yang terlibat konflik lahan juga melonjak tajam banding tahun sebelumnya.

Intinya: konflik itu di mana-mana. Di ruang digital, di sawah, di kantor, bahkan di grup keluarga pas lebaran. Pertanyaannya bukan “kenapa ada konflik?” tapi “kenapa konflik nggak pernah benar-benar hilang?”

Pola Sosial yang Mulai Kelihatan

Sosiolog klasik kayak Karl Marx bilang konflik itu lahir dari ketimpangan sumber daya  siapa yang punya, siapa yang nggak. Tapi teori itu udah kembangin lebih jauh sama Ralf Dahrendorf: konflik nggak cuma soal kelas ekonomi, tapi soal siapa yang punya otoritas dan siapa yang cuma nurut aturan.

Ada juga Georg Simmel yang justru bilang: konflik itu bentuk interaksi sosial juga, bukan lawan dari kerja sama. Terus Lewis Coser nambahin konflik bisa fungsional, bisa bikin kelompok makin solid, bisa mendorong perubahan aturan yang emang udah nggak adil.

Jadi pola yang kelihatan sekarang: konflik makin sering muncul karena makin banyak pihak yang sadar posisi mereka timpang, dan makin punya saluran buat nyuarain itu (halo, medsos).

Konflik Itu Statistik, Bukan Cuma Drama

Coba lihat angka ini. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, hampir semua peristiwa konflik sosial di Indonesia  sekitar 93,9%  bersumber dari tiga hal: politik, ekonomi, dan sosial budaya. Bukan kebetulan, ini pola struktural.

Dari sisi ekonomi, inflasi tahunan per Agustus 2025 tercatat 5,8%, lebih tinggi dari target Bank Indonesia. Harga makanan, transportasi, dan energi rumah tangga jadi penyumbang utama dan ini yang paling kerasa buat masyarakat kelas bawah-menengah.

Sementara di ranah agraria, tren konflik lahan naik sekitar 15% bandingkan tahun sebelumnya, dengan ratusan letusan konflik yang berdampak ke lebih dari 120 ribu keluarga. Kasus kekerasan dan kriminalisasi di wilayah konflik itu bahkan naik sampai 32%.

Data-data ini nunjukkin satu hal: konflik bukan “kebetulan sejarah”, tapi konsekuensi dari struktur yang timpang dan belum kunjung terbenahi.

Makin Sepi atau Makin Ribut?

Kalau tren ini dibaca pakai kacamata predictive sociology, kemungkinan besar konflik nggak akan mereda — malah akan berubah bentuk. Beberapa proyeksi yang masuk akal:

  • Konflik sumber daya (lahan, air, energi) akan makin sering, seiring proyek pembangunan besar terus jalan sementara mekanisme penyelesaian sengketa belum kuat.
  • Konflik digital makin cepat naik ke permukaan apa yang dulu butuh bertahun-tahun buat jadi isu nasional, sekarang bisa viral dalam hitungan jam.
  • Generasi muda bakal jadi aktor konflik yang lebih vokal, karena akses informasi lebih terbuka dan ekspektasi keadilan sosial makin tinggi.

Bukan berarti masa depan suram. Tapi kalau struktur ketimpangannya nggak dibenahi, jangan kaget kalau “ribut-ribut” ini jadi rutinitas tahunan.

Terus, Kita Harus Ngapain?

Ini bagian paling penting: konflik itu sebenarnya sinyal, bukan musuh. Sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi.

Buat kita yang di dunia akademik dan mahasiswa: konflik sosial adalah data hidup yang bisa dianalisis, bukan cuma bahan story Instagram. Buat masyarakat umum, penting buat belajar baca konflik secara struktural bukan cuma “siapa yang salah”, tapi “kenapa ini bisa terjadi”.

Dan yang paling krusial: dorong ruang dialog dan mekanisme penyelesaian konflik yang adil, bukan yang cuma meredam gejala tapi biarin akar masalahnya numpuk terus.

Jadi, konflik itu bukan tanda masyarakat gagal. Konflik itu tanda masyarakat masih hidup, masih bergerak, dan masih punya harapan buat berubah jadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *