Apakah Manusia Masih Menjadi Pemilik Pengetahuan?
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Pernahkah kita bertanya: kalau hampir semua pertanyaan bisa kita ajukan kepada AI, sebenarnya siapa yang sekarang menguasai pengetahuan—manusia atau mesin?
Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis. Tetapi bagi mahasiswa, dosen, peneliti, pekerja kreatif, bahkan Gen Z yang setiap hari berhadapan dengan chatbot, ini sudah menjadi persoalan sehari-hari.
Kita mulai terbiasa bertanya kepada AI sebelum membuka buku. Membuat ringkasan? AI. Mencari ide? AI. Menulis email? AI. Bahkan ketika bingung menentukan judul skripsi, AI ikut diajak berdiskusi.
Indonesia sendiri semakin terkoneksi secara digital. Data APJII menunjukkan pada 2026 sekitar 235,26 juta orang atau 81,72% penduduk Indonesia telah terhubung ke internet.
Namun, ada paradoks menarik: semakin banyak orang terhubung internet, belum tentu semakin banyak orang memahami AI. Survei APJII 2025 menunjukkan sekitar 27,34% masyarakat Indonesia mengakses AI, sementara sebagian besar lainnya belum menggunakannya.
Di sinilah persoalannya menjadi sosial.
Ketika AI Mulai Menjadi “Teman Berpikir”
Dalam perspektif sosiologi, teknologi tidak pernah benar-benar netral. Ia ikut mengubah cara manusia berinteraksi, bekerja, belajar, bahkan menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan.
Dulu, pengetahuan memiliki “penjaga gerbang”: guru, dosen, buku, perpustakaan, jurnal ilmiah dan institusi pendidikan.
Sekarang gerbang itu semakin terbuka.
Seseorang bisa bertanya kepada AI kapan saja dan mendapatkan jawaban dalam hitungan detik. Hubungan manusia dengan pengetahuan pun bergeser: dari mencari informasi menjadi berdialog dengan mesin yang menghasilkan informasi.
Ini mengingatkan kita pada gagasan social construction of reality: realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi. Bedanya, hari ini salah satu “aktor” dalam proses tersebut bukan hanya manusia, tetapi juga sistem algoritmik.
Masalahnya sederhana tetapi serius: AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan meskipun belum tentu benar.
Karena itu, persoalannya bukan lagi apakah AI pintar. Pertanyaannya adalah: apakah manusia masih cukup kritis untuk menilai kepintaran AI?
Gen Z dan Pergeseran Otoritas Pengetahuan
Perubahan ini paling menarik terlihat pada generasi muda.
Data APJII 2025 menunjukkan Gen Z merupakan kelompok dengan penggunaan AI paling besar, sekitar 43,7%, jauh di atas generasi milenial yang berada di kisaran 22,3%.
Sementara itu, PwC mencatat 69% pekerja di Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam 12 bulan terakhir, dan 16% menggunakannya setiap hari.
Artinya, AI perlahan bergerak dari sekadar “alat teknologi” menjadi bagian dari praktik sosial.
Mahasiswa tidak hanya menggunakan AI untuk mencari informasi. Mereka menggunakannya untuk memahami teori, mencari sudut pandang, menyusun tulisan dan menguji gagasan.
Di satu sisi, ini luar biasa.
Di sisi lain, ada bahaya yang jarang kita bicarakan: ketergantungan kognitif.
Kalau setiap kali berpikir kita langsung bertanya kepada AI, lama-kelamaan kita mungkin tidak kehilangan informasi—tetapi kehilangan kebiasaan untuk berpikir sendiri.
Dan ini jauh lebih berbahaya.
Predictive Sociology: Apa yang Terjadi 2–5 Tahun Lagi?
BASMAR melihat setidaknya ada tiga kemungkinan.
Pertama, AI akan menjadi “lapisan kedua” dalam proses berpikir manusia. Orang tidak lagi sekadar menggunakan Google atau buku, tetapi berdialog dengan AI sebelum mengambil keputusan.
Kedua, nilai pengetahuan akan bergeser. Yang semakin mahal bukan informasi, melainkan kemampuan memeriksa, memahami konteks dan menentukan apakah informasi tersebut layak dipercaya.
Ketiga, akan muncul kesenjangan baru: bukan lagi sekadar digital divide, tetapi AI cognitive divide.
Sebagian orang akan mampu menggunakan AI sebagai co-pilot untuk memperluas kemampuan berpikir. Sebagian lainnya mungkin hanya menjadi konsumen jawaban AI.
Jarak sosial antara keduanya bisa semakin besar.
Jadi, Siapa Pemilik Pengetahuan?
Jawabannya mungkin sedikit mengganggu: manusia masih pemilik pengetahuan, tetapi mulai kehilangan monopoli atas produksi dan distribusinya.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “Bolehkah mahasiswa menggunakan AI?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah kita sedang mendidik manusia yang mampu berpikir bersama AI, atau manusia yang menyerahkan pikirannya kepada AI?”
Kampus perlu mengajarkan AI literacy, tetapi lebih dari itu, harus memperkuat literasi kritis, kemampuan verifikasi sumber, argumentasi dan etika.
Dosen tidak harus melawan AI. Mahasiswa juga tidak perlu takut terhadap AI.
Kita justru perlu belajar hidup berdampingan dengannya.
Sebab masa depan bukan pertarungan manusia versus mesin.
Masa depan adalah pertarungan antara manusia yang mampu berpikir dengan bantuan mesin dan manusia yang akhirnya berpikir mengikuti mesin.
Dan mungkin, di situlah pertanyaan paling penting bagi sosiologi digital hari ini:
Jika mesin semakin pintar menghasilkan jawaban, apakah manusia masih cukup bijaksana untuk menentukan pertanyaan yang benar?