Kehidupan Kita Bergantung pada Kabel dan Server
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Pernah membayangkan apa yang terjadi kalau internet mati bukan lima menit, tetapi sehari penuh?
Tidak ada WhatsApp. Mobile banking berhenti. Ojek online kehilangan koneksi. Toko tidak bisa menerima pembayaran digital. Kampus kesulitan mengakses platform pembelajaran. Bahkan pekerjaan yang kelihatannya “offline” ikut terganggu karena data, komunikasi, dan koordinasi sudah berpindah ke jaringan.
Kemudian inilah yang kita sebut paradoks kehidupan digital: kita merasa hidup di dunia tanpa kabel, padahal kehidupan kita justru semakin bergantung pada kabel dan server.
Dari Internet sebagai Teknologi Menjadi Infrastruktur Sosial
Dulu internet adalah alat. Sekarang internet sudah menjadi lingkungan sosial.
Di Indonesia, perubahan ini berlangsung sangat cepat. DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang Indonesia telah menggunakan internet pada akhir 2025, atau sekitar 80,5% populasi. Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial.
Artinya, internet bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan masyarakat. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kemudian Di sinilah pemikiran Manuel Castells tentang network society menjadi relevan. Masyarakat modern semakin diorganisasi melalui jaringan. Siapa yang terhubung, seberapa cepat terhubung, dan melalui jaringan apa ia terhubung, ikut menentukan peluang sosial dan ekonomi seseorang.
Namun ada satu hal yang sering kita lupakan: jaringan sosial digital tidak melayang di udara.
Di belakang satu pesan WhatsApp ada jaringan telekomunikasi. Kemudian ada transaksi digital ada server. Belum lagi video TikTok ada pusat data. Dan di belakang lalu lintas internet internasional terdapat kabel bawah laut.
Menurut International Telecommunication Union (ITU), kabel bawah laut membawa lebih dari 99% lalu lintas data internasional.
Jadi, ketika kita mengatakan “dunia sudah digital”, sebenarnya kita sedang berbicara tentang dunia yang sangat material.
Kabel Bukan Sekadar Kabel: Ia Menjadi Kekuasaan
Dalam perspektif sosiologi digital, infrastruktur bukan benda netral.
Siapa yang memiliki server? lalu yang mengendalikan pusat data siapa? Belum lagi yang menguasai jaringan? Di mana data masyarakat disimpan? Siapa yang memiliki kemampuan menghentikan, memperlambat, atau mengatur arus informasi?
Kemudian Pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai menjadi pertanyaan sosial dan politik.
Indonesia sendiri sedang memperbesar kapasitas infrastrukturnya. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indonesia memiliki sekitar 185 data center dengan kapasitas 274 MW pada 2025, dan menargetkan kapasitas lebih dari 2.000 MW pada 2029.
Menariknya, perkembangan AI justru membuat persoalan ini semakin serius.
AI membutuhkan data, komputasi, listrik, jaringan dan pusat data. Dengan kata lain, masa depan AI bukan hanya tentang algoritma pintar. AI membutuhkan infrastruktur yang sangat nyata.
Maka, ketergantungan masyarakat terhadap teknologi kemungkinan akan bergeser menjadi ketergantungan terhadap ekosistem infrastruktur digital.
Prediksi 2–5 Tahun: Munculnya “Masyarakat Infrastruktur”
Dalam dua sampai lima tahun ke depan, kita kemungkinan melihat perubahan besar.
Pertama, AI akan semakin tidak terlihat tetapi semakin hadir. Ia masuk ke sekolah, pekerjaan, layanan publik, bisnis dan rumah tangga.
Kedua, data center akan menjadi infrastruktur strategis, seperti listrik dan jalan pada era industri.
Ketiga, kesenjangan digital tidak lagi hanya soal “punya internet atau tidak”. Persoalannya akan menjadi lebih kompleks: siapa yang mendapatkan koneksi cepat, layanan AI berkualitas, perangkat bagus, data murah dan akses terhadap komputasi.
Kemudian Keempat, gangguan jaringan dapat berubah menjadi persoalan sosial. Ketika masyarakat terlalu bergantung pada sistem digital, satu gangguan teknis dapat memengaruhi ekonomi, pendidikan bahkan kehidupan sehari-hari.
Inilah yang bisa kita sebut sebagai Predictive Sociology: membaca masa depan masyarakat bukan hanya dari perilaku manusia, tetapi juga dari perkembangan infrastruktur yang menopang perilaku tersebut.
Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Bagi akademisi dan mahasiswa, sudah waktunya mempelajari AI bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebagai fenomena sosial.
Gen Z juga perlu memahami bahwa ketika mereka membuat konten, menggunakan AI, bermain gim atau bertransaksi digital, mereka sebenarnya sedang menjadi bagian dari sebuah sistem infrastruktur global.
Dan pemerintah? Jangan hanya berlomba membangun aplikasi.
Bangunlah fondasinya.
Kemudian Perkuat kabel, pusat data, keamanan siber, energi, literasi digital dan pemerataan akses. Sebab aplikasi secanggih apa pun tidak akan berarti ketika infrastrukturnya rapuh.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah cara melihat dunia digital.
Kita bukan hidup di atas internet.
Kita hidup di dalam sebuah infrastruktur digital.
Dan semakin pintar teknologi kita, semakin besar pula pertanyaan sosial yang harus kita jawab: siapa yang menguasai kabel, server, data dan jaringan yang membuat kehidupan modern tetap berjalan?
Itulah salah satu pertanyaan besar sosiologi digital Indonesia beberapa tahun ke depan.