Apakah Sekolah Masih Menjadi Pusat Pengetahuan?

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Apakah Sekolah Masih Menjadi Pusat Pengetahuan?

Dulu, kalau seorang anak ingin mengetahui sesuatu, jawabannya hampir selalu sama: tanya guru, buka buku, atau pergi ke perpustakaan. Sekolah adalah pintu utama menuju pengetahuan.

Sekarang ceritanya agak berbeda.

Seorang siswa bisa bertanya kepada ChatGPT sebelum bertanya kepada gurunya. Ia bisa menonton video pembelajaran di YouTube, mencari penjelasan di Google, berdiskusi di media sosial, atau meminta AI menjelaskan rumus matematika dengan bahasa yang lebih sederhana.

Lalu muncul pertanyaan yang agak mengganggu: kalau pengetahuan sudah ada di mana-mana, apakah sekolah masih menjadi pusat pengetahuan?

Jawabannya: ya, tetapi perannya sedang berubah.

Ketika Pengetahuan Keluar dari Pagar Sekolah

Dalam perspektif sosiologi, sekolah selama ini bukan hanya tempat belajar. Sekolah adalah institusi sosial yang menentukan siapa yang kita anggap memiliki pengetahuan, bagaimana pengetahuan mereka peroleh, dan bagaimana seseorang mendapatkan legitimasi sebagai “orang pintar”.

Namun internet dan AI mengubah pola tersebut.

Data pemerintah yang merujuk survei APJII 2025 menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok pengguna AI terbesar, mencapai 43,7% responden pengguna AI. Yang lebih menarik, 43,98% penggunaan AI ditujukan untuk edukasi dan pembelajaran, naik tajam dari 21,84% pada tahun sebelumnya. Bahkan survei lain yang dikutip pemerintah menunjukkan 87% pelajar Indonesia telah menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas sekolah.

Artinya sederhana: proses belajar sudah berlangsung di luar ruang kelas.

Dari “Guru Sumber Pengetahuan” Menjadi “Guru Kurator Pengetahuan”

Di sinilah teori knowledge society menjadi relevan. Masyarakat modern tidak lagi hanya hidup dari produksi barang, tetapi juga dari produksi, distribusi, dan pengolahan pengetahuan.

AI mempercepat perubahan tersebut.

Dulu guru memiliki keunggulan karena menguasai informasi yang belum tentu dimiliki siswa. Sekarang siswa bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik.

Tetapi ada persoalan besar: informasi bukanlah pengetahuan.

AI bisa memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Karena itu, kemampuan paling penting di era AI bukan sekadar menghafal jawaban, melainkan memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan memahami konteks.

UNESCO sendiri mendorong pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat penggunaan AI. Kerangka kompetensi AI untuk siswa mencakup pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, pemahaman teknologi, hingga kemampuan merancang sistem AI.

Jadi, sekolah tidak harus kalah dari AI.

Justru sekolah harus menjadi tempat manusia belajar bagaimana menghadapi AI.

AI Tidak Membunuh Sekolah, tetapi Mengubah Fungsi Sekolah

Sebuah penelitian terhadap 2.894 mahasiswa di Yogyakarta menunjukkan bahwa faktor seperti persepsi manfaat dan kemudahan penggunaan ikut memengaruhi niat mahasiswa menggunakan AI dalam pembelajaran.

Penelitian lain terhadap mahasiswa di Indonesia juga menemukan bahwa mahasiswa menggunakan AI secara strategis, termasuk melakukan validasi terhadap hasil AI melalui buku teks atau masukan dari teman.

Ini menarik.

Generasi muda sebenarnya tidak sedang meninggalkan proses belajar. Mereka sedang memindahkan sebagian proses belajar ke ruang digital.

Dalam perspektif sosiologi digital, sekolah kemudian menghadapi perubahan fungsi: dari pusat distribusi pengetahuan menjadi pusat pembentukan kemampuan sosial, berpikir kritis, etika, karakter, dan validasi pengetahuan.

Bagaimana 2–5 Tahun ke Depan?

Saya melihat setidaknya tiga kemungkinan.

Pertama, kelas akan semakin sulit mempertahankan model satu arah. Guru berbicara, siswa mencatat, lalu ujian. Model ini akan semakin tidak cocok dengan dunia ketika setiap siswa memiliki “asisten AI” pribadi.

Kedua, tugas sekolah akan berubah. Tugas membuat esai atau rangkuman sederhana akan semakin kurang bermakna karena AI dapat mengerjakannya dalam hitungan detik. Sebaliknya, tugas akan bergerak menuju observasi lapangan, debat, proyek kelompok, eksperimen, presentasi, dan pemecahan masalah nyata.

Ketiga, sekolah akan menjadi ruang sosial yang semakin penting.

Ironisnya, ketika AI membuat informasi semakin mudah diperoleh, manusia justru semakin membutuhkan tempat untuk berinteraksi dengan manusia lain.

Maka sekolah masa depan mungkin bukan lagi tempat utama untuk mencari jawaban.

Sekolah akan menjadi tempat untuk belajar mengapa sebuah jawaban layak dipercaya.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Guru tidak perlu berlomba menjadi lebih cepat daripada AI. Mustahil.

Guru harus menjadi lebih manusiawi daripada AI.

Ajarkan siswa cara bertanya. Cara meragukan informasi. bagaimana membaca data. Cara berdiskusi. kemudian menghadapi perbedaan pendapat tanpa bermusuhan. Dan yang paling penting: cara menggunakan AI tanpa menyerahkan seluruh pikirannya kepada AI.

Bagi mahasiswa dan Gen Z, pesannya juga sederhana: jangan bangga karena bisa meminta AI mengerjakan tugas. Banggalah ketika mampu menggunakan AI untuk membuat pikiranmu bekerja lebih tajam.

Sebab masa depan pendidikan bukan pertarungan antara sekolah versus AI.

Pertarungannya adalah antara manusia yang mengendalikan teknologi dan manusia yang dikendalikan teknologi.

Dan di situlah sekolah masih punya pekerjaan yang sangat besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *