Benarkah Gaya Hidup sebagai Ekspresi Sosial
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba jujur deh. Kopi yang kamu pesan tadi pagi, playlist yang lagi kamu putar, sampe cara kamu ngatur feed Instagram biar keliatan “aesthetic” itu semua hasil pilihan bebas kamu, atau… ada yang ngarahin?
Selamat datang di dunia gaya hidup Gen Z, tempat “jadi diri sendiri” ternyata butuh referensi dari ribuan orang lain dulu.
Tren Kejadian di Depan Mata Kita
Scroll sebentar aja media sosial, kamu bakal nemuin pola yang sama berulang: OOTD ke coffee shop yang itu-itu lagi, thrifting jadi identitas, sampai “dopamine detox” yang ironisnya kamu pamerkan lewat konten.
Semua kelihatan personal, tapi anehnya… kok bisa serempak?
Ini bukan kebetulan. Riset GoodStats yang rilis awal 2026 nemuin fakta menarik: scroll media sosial jadi aktivitas favorit Gen Z buat ngisi waktu luang, yang sukai 63% responden jauh ngalahin olahraga (32%) apalagi baca buku (30%).
Sementara itu, YouGov mencatat 81% masyarakat Indonesia aktif bermedsos, dan separuh lebih penggunanya adalah Gen Z. Angka-angka ini nunjukin satu hal: ruang di mana “selera pribadi” kita terbentuk, sekarang hampir seluruhnya digital.
Pola Sosial yang Mulai Kelihatan
Nah, di sinilah sosiologi masuk dan bilang: “tenang, ini udah ada namanya kok.”
Thorstein Veblen, lebih dari satu abad lalu, udah ngomongin conspicuous consumption belanja bukan buat kebutuhan, tapi buat kamu pamerkan status sosialnya.
Sekarang bedanya cuma medianya: dulu perhiasan di pesta dansa, sekarang unboxing di reels.
Jean Baudrillard nambahin lapisan lagi lewat teori konsumsi simboliknya: barang yang kita beli itu bukan soal fungsi, tapi soal tanda.
Tumbler mahal bukan buat minum, tapi buat bilang “gue tipe orang yang begini”. Dan Pierre Bourdieu punya konsep habitus selera yang kelihatan alami itu sebenarnya terbentuk sama posisi sosial dan kebiasaan kelompok kita.
Kombinasi ketiganya pas banget buat baca gaya hidup Gen Z hari ini: algoritma medsos jadi mesin percepatan yang bikin proses “meniru demi status” ini jalan jauh lebih cepat dan lebih halus dari generasi manapun sebelumnya.
Ketika Data Bilang “Kamu Nggak Sesendiri Itu”
Kalau kita telusuri lebih jauh, konsumsi ala Gen Z sering terpicu bukan sama kebutuhan, tapi tekanan sosial dan faktor psikologis lewat pembelian impulsif mulai dari keunikan produk sampai insentif diskon yang bikin susah nolak.
Riset lain nyebut Instagram, TikTok, dan Facebook sebagai tiga panggung utama tempat perilaku sosial Gen Z terbentuk dan kita ubah.
Ironisnya, sambil sibuk membentuk “personal branding”, banyak Gen Z justru menghadapi tekanan finansial nyata upah rata-rata pekerja muda usia 20-24 tahun cuma sekitar Rp2,28 juta per bulan menurut data BPS. Jadi gaya hidup yang tampil “effortlessly curated” itu, seringkali terbangun di atas anggaran yang sebenarnya pas-pasan.
Ini yang bikin fenomena flexing jadi makin menarik kita bedah: bukan cuma soal gaya, tapi soal negosiasi status di tengah keterbatasan.
Predictive Sociology Bilang Apa?
Kalau tren ini kita teruskan, ada beberapa arah yang cukup mungkin kejadian:
- Personal branding jadi “wajib”, bukan pilihan. Identitas digital bakal makin kita anggap setara CV yang nilai orang lain sebelum sempat kenalan langsung.
- Micro-community menggantikan tren massal. Karena algoritma makin personal, gaya hidup nggak lagi seragam nasional, tapi pecah jadi ribuan “suku” niche dengan kode selera masing-masing.
- Kelelahan otentisitas. Makin banyak orang capek pura-pura “authentic” di depan kamera. Dan ini bisa memicu gelombang balik ke privasi digital atau gaya hidup yang sengaja “kurang sempurna”.
- AI ikut membentuk selera. Rekomendasi otomatis bakal makin menentukan apa yang kita anggap “gue banget”. Bikin garis antara pilihan asli dan pilihan yang tersodorkan makin kabur.
Trus, Kita Harus Ngapain?
Bukan berarti harus anti-medsos atau berhenti belanja kopi kekinian, kok. Yang penting adalah kesadaran kritis: sadar kapan sebuah “pilihan pribadi” itu benar-benar datang dari diri sendiri, dan kapan itu cuma refleks ikut arus yang dirancang biar kita terus scroll dan belanja.
Buat akademisi dan mahasiswa, ini ladang riset yang masih hijau banget gimana algoritma membentuk habitus baru yang belum sempat dipetakan teori klasik.
Buat Gen Z sendiri, mungkin pertanyaan paling jujur yang bisa ditanya tiap mau posting adalah: “Ini beneran gue, atau gue lagi ngikutin skrip yang orang lain juga ikutin?”
Karena pada akhirnya, gaya hidup emang selalu jadi bahasa sosial. Cuma sekarang, kamusnya di-update algoritma tiap detik.