Budaya Tak Sekadar Tradisi: Ekspresi Kehidupan Manusia
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba deh scroll FYP-mu lima menit aja. Ada yang lagi bikin konten “core” cottagecore, dark academia, office siren, ada yang pamer outfit thrift, ada yang bikin ulang dance TikTok yang entah udah versi keberapa.
Kelihatannya receh. Tapi coba tarik napas sebentar, karena yang lagi kamu lihat itu sebenarnya budaya sedang bekerja, hidup-hidup, di depan matamu.
Selama ini kita sering kebawa mikir budaya itu ya wayang, batik, upacara adat hal yang “harus kita lestarikan” dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal secara sosiologis, budaya nggak pernah sesempit itu.
Budaya adalah keseluruhan cara manusia berpikir, bersikap, dan mengekspresikan makna hidupnya dan itu termasuk caption Instagram yang kamu tulis jam 2 pagi.
Pola yang Mulai Kelihatan
Kalau kita tarik ke teori, ini sebenarnya bukan barang baru. Clifford Geertz sudah lama bilang budaya itu “web of significance”, jaring makna yang kita tenun sendiri lewat simbol. Bedanya sekarang, jaring itu tertenun di ruang digital yang bergerak jauh lebih cepat dan lebih personal.
Ada tiga pola sosial yang mulai kentara. Pertama, budaya makin cair dan modular, orang nggak lagi “ikut” satu budaya utuh. Tapi meracik identitas dari potongan-potongan tren, mirip yang oleh Zygmunt Bauman kita sebut liquid modernity: segala sesuatu. Termasuk identitas, jadi serba sementara dan gampang tergantikan.
Kedua, konsumsi jadi bahasa ekspresi diri, barang yang kita beli bukan cuma soal fungsi. Tapi soal citra dan keterhubungan dengan komunitas tertentu.
Ketiga, validasi sosial jadi motor penggerak: takut ketinggalan tren atau dianggap “kurang update” bisa memengaruhi keputusan. Dari gaya belanja sampai cara ngomong.
Data Bicara
Ini bukan cuma feeling. Laporan APJII dan Swatama Research soal lanskap digital Indonesia 2026 mencatat penetrasi internet terus naik. Dari 77% pada 2022 ke angka yang jauh lebih tinggi. Sekarang, dengan smartphone jadi alat akses dominan dan konten video pendek. TikTok, Reels, Shorts, jadi hiburan favorit karena formatnya yang cepat dan gampang tercerna.
Riset Jakpat juga menunjukkan gambaran menarik soal prioritas belanja Gen Z: makanan dan kuota internet sama-sama jadi pengeluaran bulanan utama, sementara transportasi dan tabungan juga masuk daftar prioritas.
Artinya, “budaya digital” bukan cuma gaya hidup tambahan, tapi udah jadi kebutuhan pokok yang bersanding sama makan dan transportasi.
Fenomena lain yang menegaskan pola ini: perilaku belanja Gen Z makin terarahkan ke pengalaman yang terasa personal dan autentik, bukan sekadar ikut-ikutan tren secara membabi buta.
Mereka kritis, tapi tetap rela mengeluarkan uang untuk hal yang kita anggap “worth it” secara emosional.
Proyeksi Lima Tahun ke Depan
Kalau tren ini mengajarkan, ada beberapa hal yang mungkin kita hadapi sampai 2031. Budaya lokal kemungkinan makin banyak “kemasan ulang” lewat format digital, bukan hilang, tapi bermutasi biar tetap relevan buat generasi yang tumbuh di layar vertikal.
Batas antara produsen dan konsumen budaya bakal makin kabur; siapa pun bisa jadi “kurator” tren lewat satu video 15 detik. Dan yang perlu kita waspadai, tekanan validasi sosial digital berpotensi makin intens, apalagi kalau algoritma terus optimalkan buat bikin orang scroll lebih lama.
Di sisi lain, ada peluang: generasi yang makin melek digital juga makin kritis soal keaslian dan makna, bukan cuma ikut arus. Sociology bisa berperan besar di sini bukan cuma menjelaskan fenomena, tapi bantu masyarakat baca pola sebelum kejebak di dalamnya.
Terus, Kita Harus Ngapain?
Nggak perlu panik atau anti-teknologi. Yang penting justru membangun kesadaran kritis: sadar kapan kita ekspresi diri secara tulus, dan kapan kita cuma ngejar validasi karena takut ketinggalan. Buat akademisi dan mahasiswa, ini ladang riset yang masih luas banget, budaya digital sebagai objek kajian sosiologi kontemporer belum banyak digarap tuntas.
Buat Gen Z, hal paling simpel yang bisa dilakukan adalah lebih sadar diri saat scroll: apakah tren ini beneran mewakili siapa saya, atau cuma refleks ikut arus?
Budaya nggak pernah berhenti berubah bentuk. Dari upacara adat sampai algoritma FYP, intinya sama: manusia selalu mencari cara buat bilang, “ini lho, aku.”