Apakah Media Sosial Membuat Kita Semakin Sosial?

Oleh BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Apakah Media Sosial Membuat Kita Semakin Sosial?

Pernah tidak, kita duduk bersama teman, keluarga, atau pasangan, tetapi masing-masing sibuk dengan layar ponsel?

Lucunya, kita sedang bersama secara fisik, tetapi belum tentu hadir secara sosial.

Di sinilah pertanyaan menarik muncul: apakah media sosial benar-benar membuat kita semakin sosial, atau justru menciptakan bentuk kesosialan yang baru—lebih luas, tetapi sekaligus lebih dangkal?

Indonesia memberi gambaran yang menarik. Pada akhir 2025, sekitar 230 juta orang Indonesia menggunakan internet, dengan penetrasi 80,5% populasi. Sementara itu, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara 62,9% populasi.

Angka ini menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan. Ia sudah menjadi ruang tempat orang Indonesia berteman, bekerja, berdebat, belajar, berjualan, mencari informasi, bahkan membangun identitas diri.

Dari Nongkrong ke “Scrolling”

Dulu, kalau ingin bersosialisasi, kita pergi ke warung kopi, bertemu tetangga, datang ke kampus, atau berkumpul di ruang publik.

Sekarang cukup membuka TikTok, Instagram, WhatsApp, atau platform lainnya.

Secara sosiologis, terjadi perubahan besar: ruang sosial berpindah dari ruang fisik ke ruang digital.

Konsep social capital dari Robert Putnam membantu menjelaskan fenomena ini. Hubungan sosial bukan hanya soal jumlah teman, tetapi juga tentang kepercayaan, jaringan, norma, dan kemampuan bekerja sama.

Media sosial ternyata mampu memperluas jaringan itu secara luar biasa.

Seseorang di Makassar bisa berdiskusi dengan mahasiswa di Jakarta. Kreator kecil di daerah bisa memiliki komunitas nasional. Bahkan seseorang yang merasa “tidak punya tempat” di lingkungan fisiknya dapat menemukan kelompok yang memiliki minat dan pengalaman serupa di internet.

Namun ada sisi lain.

Banyak koneksi tidak otomatis berarti banyak kedekatan.

Kita bisa memiliki ribuan followers, tetapi tidak punya satu orang yang benar-benar bisa diajak berbicara ketika sedang menghadapi masalah.

Di sinilah paradoks masyarakat digital mulai terlihat.

Kita Semakin Terhubung, Tetapi Belum Tentu Semakin Dekat

Data terbaru menunjukkan betapa besar waktu yang dicurahkan masyarakat Indonesia kepada media sosial. Laporan Digital 2026 mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, termasuk konsumsi video online—lebih dari tiga jam sehari. Rata-rata pengguna juga menggunakan sekitar 7,7 platform setiap bulan.

Artinya, media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas sosial sehari-hari.

Tetapi pertanyaannya bukan lagi “berapa lama kita online?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang terjadi pada hubungan sosial kita ketika sebagian besar interaksi berlangsung melalui algoritma?”

Algoritma menentukan apa yang kita lihat. Notifikasi menentukan kapan kita kembali. Like, komentar, dan jumlah followers perlahan menjadi ukuran baru mengenai penerimaan sosial.

Inilah yang bisa disebut sebagai algoritmisasi kehidupan sosial.

Kita bukan hanya bersosialisasi dengan manusia.

Kita bersosialisasi melalui sistem yang ikut mengatur siapa yang muncul di hadapan kita.

Bahkan dalam konteks Indonesia, media sosial sudah menjadi ruang pencarian informasi dan keputusan. Laporan Digital 2026 menunjukkan 37,3% pengguna menemukan merek melalui iklan media sosial dan 32,6% melalui komentar di media sosial.

Jadi, media sosial bukan lagi “tambahan” kehidupan sosial.

Ia sudah menjadi infrastrukturnya.

Lalu, Apakah Kita Benar-Benar Semakin Sosial?

Jawabannya: ya dan tidak.

Kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin mampu membangun hubungan yang bermakna.

Selanjutnya cepat mengetahui apa yang terjadi pada orang lain, tetapi belum tentu semakin memahami mereka.

Lalu bebas berbicara, tetapi semakin mudah pula terjebak dalam kelompok yang hanya memperkuat pandangan kita sendiri.

Fenomena echo chamber, filter bubble, budaya viral, cancel culture, dan pencarian validasi digital menunjukkan bahwa masyarakat sedang belajar menjadi sosial dalam lingkungan yang sama sekali berbeda.

Dalam 2–5 tahun ke depan, saya memperkirakan persoalannya akan semakin kompleks.

Media sosial akan semakin bercampur dengan AI, personalisasi algoritmik, virtual influencer, chatbot, dan konten sintetis. Batas antara percakapan manusia dan percakapan dengan mesin akan semakin tipis.

Pertanyaan sosialnya pun akan berubah:

Apakah kita sedang membangun masyarakat yang lebih terhubung—atau hanya masyarakat yang lebih ramai?

Yang Harus Kita Bangun Bukan Sekadar Koneksi

Karena itu, pendidikan digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan media sosial.

Mahasiswa perlu belajar membaca algoritma.

Gen Z perlu memahami bagaimana engagement dapat memengaruhi emosi dan perilaku.

Akademisi perlu melihat media sosial bukan sekadar objek penelitian, tetapi sebagai ruang sosial baru tempat budaya, kekuasaan, identitas, dan konflik diproduksi.

Dan kita semua perlu mengingat satu hal sederhana:

Jumlah teman di layar bukan ukuran kualitas kehidupan sosial kita.

Mungkin tantangan terbesar masyarakat digital bukan bagaimana membuat manusia semakin terkoneksi.

Tantangannya justru bagaimana membuat manusia tetap manusiawi di tengah koneksi yang tidak pernah berhenti.

Sebab pada akhirnya, kita tidak membutuhkan internet yang membuat kita sekadar online.

Kita membutuhkan teknologi yang membuat kita lebih mampu memahami, peduli, bekerja sama, dan hidup bersama.

Itulah pekerjaan rumah sosiologi digital Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *