Di Media Sosial, Kita Sedang Menampilkan Diri atau Menjual Diri?
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Coba buka media sosial Anda sekarang. Lalu perhatikan satu hal: berapa banyak orang yang benar-benar sedang “bercerita”, dan berapa banyak yang sebenarnya sedang “berjualan”?
Jangan buru-buru berpikir bahwa yang kita maksud berjualan adalah promosi baju, makanan, atau produk kecantikan. Di era media sosial, yang terjual bisa jauh lebih personal: wajah, gaya hidup, kemampuan, pengalaman, opini, bahkan kepribadian kita sendiri.
Hari ini, seseorang pergi minum kopi bukan sekadar untuk menikmati kopi. Ia mungkin juga sedang memproduksi konten. Mahasiswa mengikuti seminar bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk memperbarui profil LinkedIn. Seseorang berbagi pengalaman hidup bukan hanya ingin kita dengar, melainkan juga membangun “personal branding”.
Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup mengganggu: di media sosial, apakah kita masih sekadar menampilkan diri, atau sebenarnya sudah mulai menjual diri?
Ketika Kehidupan Berubah Menjadi Etalase
Media sosial awalnya terasa seperti ruang pertemanan digital. Kita mengunggah foto, berbagi cerita, bertukar kabar, dan mencari teman lama. Namun perlahan, fungsinya berubah. Kehidupan sehari-hari mulai terasa seperti sebuah etalase.
Kita memilih foto terbaik. Menghapus bagian hidup yang kita anggap kurang menarik. Menyusun kata-kata agar terlihat cerdas. Bahkan kebahagiaan pun terkadang membutuhkan bukti visual sebelum kita anggap nyata.
Fenomena ini dapat lebih jelas melalui gagasan sosiolog klasik Erving Goffman tentang dramaturgi sosial. Menurut Goffman, kehidupan sosial menyerupai panggung pertunjukan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung mengelola kesan yang ingin tampil kepada orang lain.
Media sosial membawa teori itu ke level yang jauh lebih ekstrem.
Kalau dulu “panggung” kita terbatas pada kampus, kantor, atau lingkungan tempat tinggal, sekarang panggung itu berada di dalam genggaman. Penontonnya bisa teman, keluarga, dosen, calon atasan, pelanggan, bahkan orang asing yang belum pernah kita temui.
Masalahnya, ketika hidup terus-menerus berada di atas panggung, kita bisa lupa: mana diri yang sedang kita jalani, dan mana diri yang sedang kita promosikan?
Dari Identitas ke Personal Branding
Dalam sosiologi digital, identitas tidak lagi hanya bentuk oleh keluarga, lingkungan, atau pengalaman langsung. Identitas kini juga terbentuk oleh algoritma, metrik, tren, dan respons publik.
Like menjadi semacam tepuk tangan. Followers menjadi ukuran popularitas. Engagement menjadi indikator apakah seseorang masih dianggap relevan.
Tidak heran jika semakin banyak orang membangun dirinya seperti sebuah merek.
Data APJII menunjukkan bahwa penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235,26 juta pengguna pada 2026. Generasi Z dan milenial menjadi kelompok pengguna internet terbesar, sementara komunikasi dan media sosial termasuk aktivitas utama di ruang digital.
Sementara itu, DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada akhir 2025, atau setara dengan 62,9 persen populasi.
Angka ini menunjukkan satu hal penting: kehidupan sosial masyarakat Indonesia semakin terkoneksi dengan ruang digital.
Di tengah ruang sebesar itu, perhatian menjadi sesuatu yang bernilai. Dan ketika perhatian memiliki nilai, manusia pun mulai belajar mengelolanya.
Seorang mahasiswa bisa memperoleh peluang kerja karena kontennya. Seorang akademisi dapat memperluas pengaruh melalui media sosial. Seorang pekerja kreatif bisa mengubah keahlian menjadi penghasilan.
Jadi, menjual diri tidak selalu buruk.
Yang menjadi persoalan adalah ketika nilai diri sepenuhnya bergantung pada respons digital. Ketika unggahan sepi membuat kita merasa tidak berharga. Ketika kehidupan nyata terasa kurang penting karena tidak cukup menarik untuk diposting.
Kita Bukan Hanya Pengguna, tetapi Juga Produk
Di sinilah secara sosiologi digital menjadi menarik.
Kita sering menganggap media sosial sebagai layanan gratis. Padahal, dalam ekonomi digital, aktivitas kita memiliki nilai. Apa yang kita klik, tonton, sukai, bagikan, bahkan berapa lama kita berhenti pada sebuah video, semuanya dapat menjadi data.
Dengan kata lain, kita bukan sekadar konsumen media sosial. Dalam kondisi tertentu, kita juga menjadi sumber data dan komoditas ekonomi digital.
Platform membutuhkan perhatian kita. Kreator membutuhkan perhatian kita. Merek membutuhkan perhatian kita. Dan ironisnya, kita sendiri kemudian ikut berlomba mendapatkan perhatian dari orang lain.
Inilah yang membuat batas antara menampilkan diri dan menjual diri semakin kabur.
Lima Tahun ke Depan: Semua Orang Menjadi Merek?
Mari mencoba sedikit melakukan predictive sociology.
Dalam dua sampai lima tahun ke depan, perkembangan AI generatif kemungkinan akan membuat personal branding menjadi semakin otomatis. Foto bisa dipoles AI. Video bisa dibuat tanpa kamera profesional. Avatar dapat berbicara menggantikan manusia. Bahkan konten dapat dirancang berdasarkan prediksi algoritma tentang apa yang paling mungkin menarik perhatian.
Akibatnya, kompetisi digital mungkin bukan lagi sekadar tentang siapa yang paling populer, tetapi siapa yang paling mampu mengelola identitas digitalnya.
Kita berpotensi memasuki masa ketika setiap individu memiliki “jejak merek” sendiri. Mahasiswa, dosen, pekerja, seniman, bahkan masyarakat biasa akan semakin terdorong membangun reputasi digital.
Namun ada risiko besar: semakin sempurna identitas digital kita, semakin besar pula jarak antara kehidupan yang ditampilkan dan kehidupan yang sebenarnya.
Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Pertama, jangan biarkan algoritma menentukan seluruh harga diri kita. Popularitas digital bukan ukuran tunggal kualitas manusia.
Kedua, bagi mahasiswa dan Gen Z, bangunlah personal branding, tetapi jangan berubah menjadi produk yang kehilangan keaslian. Tidak semua hal harus dikontenisasi.
Ketiga, akademisi perlu melihat media sosial bukan hanya sebagai tempat hiburan. Ruang ini adalah laboratorium sosial yang sangat besar untuk memahami perubahan identitas, relasi, kekuasaan, ekonomi, dan perilaku manusia.
Dan terakhir, kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri sebelum menekan tombol “unggah”:
Apakah saya sedang berbagi sesuatu karena memang ingin berbagi, atau karena saya takut tidak terlihat?
Mungkin, di situlah pertarungan terbesar manusia di era digital dimulai.
Bukan lagi tentang bagaimana kita menggunakan media sosial.
Tetapi tentang satu pertanyaan yang jauh lebih personal: ketika semua orang bisa melihat kita, apakah kita masih tahu siapa diri kita sebenarnya?