Saat Bumi Berguncang, Mengapa Hoaks Ikut Beredar?

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Saat Bumi Berguncang, Mengapa Hoaks Ikut Beredar?

Bencana mengguncang tanah. Media sosial mengguncang pikiran. Di antara keduanya, hoaks menemukan ruang untuk tumbuh.

Bayangkan situasinya. Tanah tiba-tiba bergetar. Orang berlari keluar rumah. Grup WhatsApp mulai ramai. Notifikasi berdatangan: “Katanya sebentar lagi ada gempa lebih besar.” Lalu muncul video tsunami, lengkap dengan gambar dramatis dan narasi yang membuat bulu kuduk berdiri.

Masalahnya, belum tentu semua itu benar.

Fenomena tersebut kembali terlihat setelah gempa kuat mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat gempa utama berkekuatan M7,7 dan kemudian terjadi ribuan gempa susulan. Dalam situasi penuh kecemasan seperti ini, beredar pula klaim bahwa gempa besar akan terjadi pada waktu tertentu. BMKG menegaskan klaim prediksi tersebut sebagai hoaks karena gempa bumi belum dapat diprediksi secara akurat mengenai waktu, lokasi, dan kekuatannya.

Lalu, mengapa hoaks justru muncul ketika masyarakat sedang panik?

Ketika ketakutan bertemu algoritma

Dalam perspektif sosiologi digital, hoaks bencana bukan sekadar persoalan orang “suka berbohong”. Ada mekanisme sosial yang jauh lebih kompleks.

Salah satunya adalah social amplification of risk, yaitu kondisi ketika persepsi terhadap risiko membesar karena informasi yang beredar di masyarakat. Ketika seseorang menerima pesan “akan ada gempa susulan besar”, ia mungkin tidak langsung percaya. Tetapi ketika pesan yang sama datang dari tiga grup WhatsApp, TikTok, Facebook, dan teman dekat, otak mulai berpikir: “Jangan-jangan benar.”

Di sinilah masalahnya.

Pengulangan sering terasa seperti kebenaran.

Algoritma media sosial kemudian ikut bermain. Konten yang membuat orang berhenti menggulir, merasa takut, penasaran, atau terkejut cenderung memperoleh perhatian lebih besar. Akibatnya, video dramatis tentang bencana bisa berlari jauh lebih cepat daripada penjelasan ilmiah yang tenang.

Hoaks tidak selalu menang karena paling benar.

Kadang ia menang karena paling menarik perhatian.

Indonesia punya contoh nyatanya

Kasus Flores memperlihatkan bagaimana ruang digital dapat menjadi “ruang kepanikan” kedua setelah ruang fisik.

Ketika BMKG harus menjelaskan bahwa klaim gempa besar pada 15 Agustus 2026 tidak memiliki dasar ilmiah, masyarakat sebenarnya sedang menghadapi dua persoalan sekaligus: risiko bencana dan risiko informasi.

Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Digital juga mencatat beredarnya video yang diklaim sebagai tsunami di NTT setelah gempa M7,7. Artinya, ketika peristiwa nyata terjadi, konten lama, manipulasi visual, bahkan konten berbasis AI dapat ikut “menempel” pada peristiwa tersebut dan memperoleh konteks baru.

Ini yang membuat era digital semakin rumit.

Dulu, orang mungkin hanya mendengar kabar dari tetangga. Sekarang satu orang dapat mengirimkan kabar kepada ratusan orang dalam hitungan detik.

Dan satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi kepanikan kolektif.

Hoaks bencana bukan sekadar masalah informasi

Bagi say pribadi, persoalannya lebih dalam.

Hoaks ketika bencana terjadi adalah persoalan kepercayaan sosial.

Masyarakat membutuhkan informasi yang cepat, tetapi kecepatan tanpa verifikasi dapat menjadi bumerang. Sebaliknya, informasi yang terlalu lambat juga membuka ruang bagi rumor untuk mengambil alih.

Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan, “Jangan percaya hoaks.”

Kita perlu belajar bertanya:

Siapa sumbernya? Apa buktinya? Kapan informasi itu dibuat? Apakah lembaga resmi membenarkannya? Mengapa saya ingin sekali mempercayai informasi ini?

Pertanyaan terakhir justru sering dilupakan.

Sebab dalam situasi krisis, manusia tidak hanya mencari informasi. Kita juga mencari kepastian.

Dan ketika ilmu pengetahuan belum bisa memberikan kepastian—misalnya karena gempa memang tidak dapat diprediksi secara tepat—hoaks datang menawarkan jawaban yang terdengar meyakinkan.

Di situlah bahayanya.

Bumi memang tidak bisa kita perintah agar berhenti berguncang. Tetapi kita masih bisa memilih untuk tidak ikut mengguncang masyarakat dengan informasi palsu.

Di era AI dan algoritma, mungkin tantangan terbesar setelah bencana bukan hanya menyelamatkan manusia dari reruntuhan.

Tetapi juga menyelamatkan akal sehat dari banjir informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *