Gempa Tidak Bisa Dihentikan, Dampaknya Bisa Dikurangi

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Gempa Tidak Bisa Dihentikan, Dampaknya Bisa Dikurangi

Bayangkan sedang duduk santai. Tiba-tiba lantai bergoyang. Gelas bergetar, lampu bergoyang, orang-orang berteriak mencari jalan keluar. Dalam hitungan detik, kepanikan menyebar.

Gempa bumi memang tidak pernah meminta izin sebelum datang.

Kita tidak bisa menghentikan lempeng bumi bergerak. Kita juga belum memiliki teknologi yang mampu mengatakan, “Besok pukul 10.15 akan terjadi gempa di tempat ini.” Tetapi ada satu hal yang bisa dilakukan: mengurangi dampaknya melalui peringatan dini, informasi yang cepat, dan masyarakat yang siap merespons.

Di sinilah teknologi bertemu dengan kehidupan sosial.

Ketika beberapa detik bisa menyelamatkan nyawa

Dalam kajian kebencanaan, peringatan dini bukan sekadar alarm berbunyi. Ia merupakan sebuah sistem yang menghubungkan deteksi, komunikasi, pengambilan keputusan, dan tindakan manusia.

Sensor mendeteksi gelombang gempa. Sistem mengolah informasi. Peringatan dikirim. Kemudian manusia harus mengambil keputusan: berlindung, keluar dari bangunan, menjauh dari pantai, atau mengikuti instruksi evakuasi.

Masalahnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak membantu jika manusia tidak tahu harus melakukan apa.

Di sinilah konsep digital society menjadi penting. Masyarakat modern hidup dalam ekosistem informasi yang sangat cepat. Informasi bencana dapat menyebar melalui telepon pintar, media sosial, aplikasi, televisi, hingga grup WhatsApp keluarga.

Namun kecepatan juga memiliki sisi gelap.

Informasi resmi bisa berhadapan dengan rumor, video lama, potongan informasi tanpa konteks, bahkan hoaks.

Indonesia: ketika gempa menjadi viral

Kita berkali-kali melihat fenomena tersebut di Indonesia. Ketika gempa terjadi dan getarannya terasa kuat, media sosial biasanya langsung berubah menjadi ruang kepanikan.

“Gempa besar!”

“Katanya akan ada gempa susulan lebih besar!”

“Segera lari ke tempat tinggi!”

Pesan semacam itu bisa beredar sangat cepat, bahkan sebelum informasi resmi dipahami masyarakat.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari perspektif Sosiologi Digital. Media sosial bukan hanya tempat berbagi informasi. Ia telah menjadi ruang sosial tempat manusia membangun persepsi tentang realitas.

Ketika seseorang menerima pesan tentang gempa dari grup keluarga, misalnya, ia tidak selalu memeriksa sumbernya. Ia bisa langsung mempercayainya karena pesan tersebut datang dari orang yang dianggap dekat dan dipercaya.

Akibatnya, kecepatan informasi tidak selalu sama dengan kebenaran informasi.

Ini tantangan besar dalam sistem peringatan dini.

Teknologi tidak cukup. Manusia harus siap.

Peringatan dini seharusnya tidak berhenti pada teknologi sensor dan sistem digital. Ia harus menjadi bagian dari budaya kesiapsiagaan masyarakat.

Masyarakat perlu memahami perbedaan antara prediksi gempa dan peringatan dini. Prediksi mencoba mengetahui kapan dan di mana gempa akan terjadi. Sementara sistem peringatan dini bekerja setelah gempa terdeteksi, memberikan waktu yang sangat terbatas untuk melakukan tindakan penyelamatan.

Karena itu, edukasi menjadi sama pentingnya dengan teknologi.

Mahasiswa perlu memahami bagaimana informasi kebencanaan bekerja. Generasi Z perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber sebelum membagikan informasi. Pemerintah perlu membangun sistem komunikasi yang cepat sekaligus mudah dipahami. Dan masyarakat perlu terbiasa melakukan latihan evakuasi, bukan hanya menunggu sirene berbunyi.

Pada akhirnya, persoalan gempa bukan hanya persoalan geologi.

Ia juga persoalan sosiologi, komunikasi, teknologi, kepercayaan, dan perilaku manusia.

Gempa memang tidak bisa kita hentikan.

Tetapi dampaknya tidak harus kita terima begitu saja.

Beberapa detik peringatan, satu informasi yang benar, satu keputusan yang tepat, atau satu tindakan yang cepat mungkin terlihat kecil.

Dalam situasi bencana, justru hal-hal kecil itulah yang bisa membuat perbedaan besar.

Teknologi memberi kita peringatan. Tetapi manusialah yang menentukan apakah peringatan itu menjadi keselamatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *