Mengapa Kehidupan Sehari-Hari Penting bagi Pengetahuan?

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Mengapa Kehidupan Sehari-Hari Penting bagi Pengetahuan?

Coba deh inget-inget, tadi pagi ngapain aja sebelum baca tulisan ini. Scroll TikTok sambil rebahan? Bales chat grup keluarga yang isinya lomba ucapan selamat pagi?

Ngantre kopi sambil nunduk liatin HP biar gak keliatan canggung sama orang di depan?

Kedengarannya remeh, kan. Tapi justru di situlah letak soal besarnya. Hal-hal receh yang kita anggap “ya gitu doang” itu sebenarnya bahan baku utama buat memahami masyarakat.

Sosiologi punya nama buat ini: sociology of everyday life. Dan hari ini, di tengah banjir notifikasi dan rutinitas yang makin padat. Ilmu ini justru makin relevan bukan makin ketinggalan zaman.

Fenomena yang Lagi Kejadian

Perhatiin deh, hidup kita sekarang itu berlapis-lapis banget. Ada “kita” versi story Instagram, “kita” versi grup WA keluarga, dan “kita” versi asli pas lagi nangis nonton drakor sendirian.

Kita gonta-ganti topeng itu berkali-kali sehari, otomatis, tanpa mikir panjang.

Data terbaru APJII 2026 nunjukkin betapa hidup kita udah nyaris nyatu sama layar. Penetrasi internet Indonesia tembus 81,72%, dengan 235 juta lebih orang yang online.

Gen Z bahkan makin ekstrem 31% responden nghabisin 4 sampai 6 jam per hari di media sosial. Sementara 14% lainnya lebih dari 6 jam.

Artinya buat banyak anak muda, “kehidupan sehari-hari” itu sekarang separuhnya terjadi di layar, bukan cuma di ruang tamu atau kelas.

Pola Sosial yang Mulai Kelihatan

Sosiolog kayak Erving Goffman udah dari lama bilang, hidup itu kayak panggung teater—kita selalu “manggung” sesuai audiens yang lagi nonton.

Bedanya, kalau dulu panggungnya cuma rumah, kampus, atau kantor, sekarang panggungnya nambah satu: linimasa digital, yang penontonnya bisa ratusan bahkan ribuan orang sekaligus.

Ada juga konsep dari Henri Lefebvre soal rhythmanalysis gimana ritme harian kita (bangun, kerja, scroll, tidur) itu sebenarnya bukan hal netral, tapi terbentuk oleh sistem ekonomi dan teknologi di sekitar kita.

Notifikasi yang bunyi tiap beberapa menit itu bukan kebetulan; itu kita desain buat masuk ke ritme hidup kita, pelan-pelan geser jadwal alami kita jadi jadwal algoritma.

Yang menarik, Michel de Certeau justru optimis: meski sistem besar (media, korporasi, negara) nyoba ngatur ritme kita, orang biasa selalu punya cara diam-diam buat “nyolong” ruang kebebasannya sendiri dia sebut ini tactics.

Contoh gampangnya: bikin private account buat curhat jujur di tengah linimasa publik yang penuh citra sempurna.

Bacaan Statistik: Bukan Cuma Angka

Kalau kita telisik lebih dalam, preferensi platform juga bercerita banyak soal identitas sosial. TikTok jadi favorit 32,3% Gen Z, susul Instagram 30,8%, dan Facebook masih bertahan di 26,9% menandakan segmentasi sosial makin tajam: siapa nongkrong di mana, ngomong dengan gaya apa, ke siapa.

Ini bukan cuma soal selera aplikasi, tapi soal kelompok sosial mana yang lagi kamu “tampilkan diri” ke situ.

Pola ini juga nunjukkin sesuatu yang lebih dalam soal konstruksi realitas sosial ala Berger dan Luckmann: kenyataan yang kita anggap “normal” termasuk standar cantik, standar sukses, standar “hidup enak” sebagian besar terbentuk lewat interaksi berulang, termasuk interaksi lewat layar yang kita alami tiap hari.

Proyeksi 5 Tahun ke Depan

Kalau tren ini jalan terus, bukan gak mungkin garis antara “hidup offline” dan “hidup online” makin kabur sampai akhirnya orang gak lagi ngerasa itu dua dunia terpisah.

Riset digital literacy akan makin penting jadi bagian kurikulum formal, bukan cuma ekstrakurikuler. Sosiologi digital juga bakal makin terbutuhkan buat baca fenomena kayak kelelahan sosial (social fatigue), krisis otentisitas diri, sampai polarisasi yang makin personal karena algoritma ngasih kita “realitas” yang beda-beda tiap orang.

Terus, Kita Harus Ngapain?

Bukan berarti kita harus anti-teknologi atau buru-buru hijrah ke gaya hidup minimalis ekstrem. Yang lebih realistis: mulai biasain diri buat refleksif sama rutinitas sendiri.

 Sadar kapan kita lagi “manggung” dan kapan lagi jadi diri sendiri. Ajak diskusi soal ini di kelas, di obrolan warung kopi, atau di caption Instagram sekalipun.

Karena pada akhirnya, sosiologi gak cuma soal teori berat di buku tebal. Ilmu ini hidup di hal-hal kecil yang kita jalani tiap hari dan justru dari situlah kita bisa mulai paham, kenapa masyarakat bergerak ke arah yang kita lihat sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *