Dari Scroll ke Pengetahuan: Gimana Kita “Tahu” Dunia Sosial?

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Dari Scroll ke Pengetahuan: Gimana Kita "Tahu" Dunia Sosial?

Coba jujur deh: kapan terakhir kali kamu tahu suatu isu bukan dari pengalaman langsung. Tapi dari video 15 detik yang lewat di FYP? Kalau jawabannya “tadi pagi,” selamat datang di realitas sosiologis paling menarik (sekaligus paling meresahkan) hari ini.

Kita nggak lagi belajar tentang dunia lewat mengalaminya sendiri kita belajar lewat representasi dunia yang sudah tersaring. Terpotong, dan sudah hasil kurasi orang lain (atau algoritma).

Pengalaman yang kita pinjam

Dulu, pengetahuan sosial lahir dari interaksi langsung ngobrol sama tetangga, ikut demo, kerja bareng di sawah. Sekarang? Sebagian besar “pengalaman” kita soal dunia sosial adalah pengalaman pinjaman: cerita orang lain yang sudah mereka kemas jadi konten.

Kita tahu rasanya jadi korban PHK dari thread Twitter. Tahu rasanya miskin dari reels, tahu rasanya perang dari klip 30 detik. Pengetahuan jadi makin luas jangkauannya, tapi makin dangkal kedalamannya.

Teori Lama, Fenomena Baru

Ini sebenarnya bukan hal baru-baru amat kalau kita pinjam kacamata sosiologi. Peter Berger dan Thomas Luckmann, lewat teori konstruksi sosial atas realitas. Sudah bilang dari puluhan tahun lalu: realitas itu nggak “ada begitu saja”. Tapi terbangun lewat interaksi dan melalui lembaga lewat kebiasaan.

Bedanya, dulu yang membangun realitas adalah keluarga, sekolah, institusi agama. Sekarang? Algoritma ikut jadi “agen konstruksi realitas” yang paling rajin bekerja 24 jam nonstop.

Alfred Schutz, tokoh fenomenologi sosial. Punya istilah keren: stock of knowledge at hand tumpukan pengetahuan siap pakai yang kita pakai buat memahami situasi baru tanpa perlu mikir dari nol.

Masalahnya, kalau tumpukan itu sekarang mayoritas isiannya konten media sosial yang sudah kita personalisasi. Maka “pengetahuan siap pakai” kita soal dunia jadi bias dari awal sebelum kita sempat berpikir kritis.

Bukan Cuma Teori, Ini Datanya

Biar nggak kamu bilang cuma ngoceh filosofis, mari lihat angka. Survei YouGov dalam Indonesia Media Consumption Report 2025 menemukan bahwa 81 persen masyarakat Indonesia aktif di media sosial, dengan generasi Z sebagai kelompok pengguna terbesar sekaligus kita sebut sebagai “superkonsumen media” enam dari sepuluh pengguna media sosial di Indonesia adalah Gen Z, dan hampir separuhnya mengakses berbagai platform 1–5 jam setiap hari.

Yang lebih menohok, riset dari jurnal Al Yazidiy (2025) mencatat bahwa hampir 9 dari 10 Gen Z menjadikan media sosial sebagai alat utama menghimpun informasi terbaru tanpa mencari pembanding di sumber lain.

Dan ini bagian yang bikin geregetan: sebagian besar dari mereka menilai kebenaran informasi bukan dari validitas, tapi dari kecepatan sampainya berita dan seberapa banyak validasi dari netizen lain.

Dengan kata lain, kebenaran sosial kita hari ini sedikit banyak kita tentukan oleh siapa yang paling cepat posting dan paling banyak like bukan siapa yang paling benar.

Proyeksi Lima Tahun ke Depan: Realitas yang Makin “Personal”

Kalau tren ini dibiarkan jalan tanpa intervensi, sociological forecasting-nya cukup jelas: kita akan makin masuk ke fase epistemic bubble yang lebih canggih. Bukan cuma filter bubble ala 2015-an, tapi realitas yang di-generate AI secara personal untuk tiap individu feed berita, opini, bahkan “fakta” yang berbeda-beda buat tiap orang.

Konsensus sosial soal apa itu “kenyataan bersama” bakal makin sulit dicapai, karena tiap orang hidup di gelembung realitasnya sendiri yang dikurasi mesin. Polarisasi bukan lagi soal ideologi, tapi soal versi realitas mana yang kamu langganan.

Jadi, Harus Ngapain?

Ini bukan ajakan buat anti-media sosial (naif banget kalau iya). Yang perlu berubah adalah caranya. Buat kamu yang mahasiswa atau akademisi: mulai bawa literasi epistemik bukan cuma literasi digital ke ruang kelas, ajarkan cara melacak sumber, bukan cuma cara bikin konten.

Buat Gen Z secara umum: biasakan tanya “ini fakta atau cuma versi yang paling viral?” sebelum percaya penuh. Dan buat kita semua: sesekali, matikan layar, dan kembali belajar dari pengalaman langsung karena pengetahuan sosial yang paling jujur tetap lahir dari dunia nyata, bukan dari kotak persegi di genggaman tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *