Algoritma Tidak Memaksa, Tetapi Membuat Kita Mau

Algoritma Tidak Memaksa, Tetapi Membuat Kita Mau

Pernahkah kamu membuka TikTok hanya untuk melihat satu video, tetapi tiba-tiba satu jam berlalu? Kamu tidak merasa terpaksa. Tidak ada yang menyuruh kamu terus menonton. Tidak ada orang yang berdiri di belakangmu sambil berkata, “Jangan berhenti!”

Namun, kamu tetap bertahan.

Di sinilah paradoks kehidupan digital bekerja. Algoritma tidak selalu memaksa manusia melakukan sesuatu. Algoritma justru membuat manusia merasa bahwa keputusan itu berasal dari dirinya sendiri.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih provokatif: kalau kita merasa bebas memilih, sebenarnya siapa yang sedang mengatur pilihan kita?

Algoritma dan Seni Mengarahkan Perhatian

Dalam perspektif ekonomi perhatian, perhatian manusia merupakan sumber daya yang sangat berharga. Platform digital membutuhkan perhatian pengguna karena perhatian dapat berubah menjadi data, iklan, interaksi, bahkan keuntungan ekonomi.

Algoritma bekerja dengan mempelajari perilaku kita: apa yang kita klik, berapa lama kita menonton, konten apa yang kita sukai, siapa yang kita ikuti, bahkan video mana yang kita lewatkan.

Kemudian sistem memberikan lebih banyak hal yang kemungkinan besarnya akan membuat kita bertahan.

Di sinilah konsep nudging menjadi relevan. Richard Thaler dan Cass Sunstein menjelaskan bahwa pilihan manusia dapat terarah melalui perubahan kecil dalam lingkungan pilihan tanpa harus menghilangkan kebebasan memilih.

Algoritma melakukan sesuatu yang jauh lebih canggih.

Ia tidak berkata, “Kamu harus menonton video ini.”

Ia hanya berkata melalui sistem rekomendasi: “Mungkin kamu akan menyukai yang ini.”

Kita kemudian mengekliknya.

Secara formal, keputusan tetap berada di tangan kita. Tetapi lingkungan tempat keputusan itu buatannya sudah terancang oleh mesin.

Indonesia: Ketika Algoritma Menjadi Teman Sehari-hari

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Kita menggunakan TikTok untuk hiburan, Instagram untuk melihat kehidupan orang lain, YouTube untuk belajar, marketplace untuk berbelanja, dan mesin pencari untuk mencari informasi.

Masalahnya, semakin sering kita menggunakan platform tersebut, semakin banyak data yang tersedia untuk membaca kebiasaan kita.

Seorang mahasiswa yang berkali-kali menonton video tentang beasiswa akan mendapatkan lebih banyak konten pendidikan. Seorang konsumen yang mencari sepatu olahraga akan segera menemukan berbagai rekomendasi produk. Bahkan seseorang yang tertarik pada isu tertentu dapat terus menerima konten dengan sudut pandang serupa.

Pada satu sisi, ini sangat membantu.

Tetapi pada sisi lain, muncul risiko filter bubble: kita semakin sering melihat informasi yang sesuai dengan minat dan keyakinan kita, sementara informasi berbeda semakin jarang muncul.

Akibatnya, algoritma bukan hanya membantu kita menemukan sesuatu.

Algoritma perlahan ikut menentukan apa yang layak kita lihat.

Inilah persoalan yang lebih serius daripada sekadar kecanduan media sosial. Kita sedang berbicara tentang perubahan cara manusia membentuk pengetahuan, selera, opini, bahkan identitas.

Apakah Kita Masih Benar-Benar Memilih?

Di sinilah kritik terhadap teknologi digital harus dimulai.

Masalahnya bukan sekadar “media sosial membuat kecanduan”. Pernyataan tersebut terlalu sederhana.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang merancang lingkungan pilihan kita?

Jika algoritma mengetahui bahwa manusia cenderung mengeklik konten sensasional, maka konten semacam itu memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian.

Bisa jadi kemarahan menghasilkan interaksi lebih tinggi, kemarahan dapat menjadi komoditas.

Atau bahkan kontroversi menghasilkan engagement, kontroversi pun dapat memproduksi secara sistematis.

Dengan demikian, algoritma tidak perlu menjadi “penjara digital”. Ia cukup menjadi arsitek pilihan.

Kita tetap berjalan dengan kaki sendiri, tetapi jalan yang tersedia sudah tersusun sebelumnya.

Implikasi Kebijakan dan Masa Depan

Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan masyarakat cara menggunakan teknologi.

Masyarakat perlu memahami bagaimana teknologi memengaruhi perilaku mereka.

Pemerintah perlu mendorong transparansi sistem rekomendasi, perlindungan data pribadi, audit algoritma berisiko tinggi, serta mekanisme yang memungkinkan pengguna memahami mengapa suatu konten muncul di hadapan mereka.

Perguruan tinggi juga perlu memperluas kajian literasi digital menjadi literasi algoritmik. Mahasiswa tidak cukup mengetahui cara menggunakan AI atau media sosial. Mereka perlu memahami bagaimana algoritma membentuk perhatian, preferensi, konsumsi, dan pengetahuan.

Sebab tantangan terbesar masyarakat digital mungkin bukan ketika mesin memaksa manusia.

Tantangan sebenarnya justru ketika mesin membuat manusia merasa bahwa semua keputusan adalah keinginannya sendiri.

Dan mungkin, pertanyaan paling penting di era algoritma bukan lagi:

“Apa yang saya pilih?”

Melainkan:

“Siapa yang membuat pilihan itu terasa seperti keinginan saya?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *