Apa yang Kita Ingat dan Lupakan? Politik dalam Memori Kolektif
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba deh scroll linimasa kamu sebentar. Ada yang lagi rame soal sejarah yang “luruskan”, ada yang protes buku pelajaran terganti, ada juga yang bingung kenapa peristiwa penting tahun lalu aja udah kayak nggak pernah kejadian.
Selamat datang di dunia di mana ingatan bukan cuma urusan otak kita sendiri tapi juga urusan kekuasaan.
Ini bukan kebetulan. Ini yang saya sebut sosiolog sebagai politik memori kolektif, dan kalau kamu perhatiin baik-baik, fenomena ini lagi terjadi di mana-mana: dari ribut-ribut kurikulum sejarah, film dokumenter yang tiba-tiba “kontroversial”. Sampai war di kolom komentar soal siapa pahlawan siapa penjahat.
Ingatan Itu Nggak Netral
Konsep memori kolektif sendiri bukan barang baru. Maurice Halbwachs, sosiolog Prancis, udah bilang dari lama bahwa kita nggak pernah benar-benar mengingat sendirian ingatan kita terbentuk sama kelompok sosial tempat kita berada. Keluarga, komunitas, bangsa.
Nah, yang jadi PR besar hari ini adalah: siapa yang punya kuasa buat nentuin versi mana yang “teringat” dan versi mana yang boleh “terlupakan”?
Di sinilah teori-teori kayak politics of memory dan historical revisionism jadi relevan banget. Negara, institusi pendidikan, media, bahkan platform digital, semuanya punya andil dalam menyeleksi mana narasi yang naik ke permukaan dan mana yang terkubur pelan-pelan.
Monumen yang robohkan, hari peringatan yang terhapus dari kalender, sampai algoritma media sosial yang menentukan berita mana yang muncul di FYP kamu itu semua bagian dari mesin besar yang kita sebut ingatan publik.
Persepsi Publik Terhadap Peristiwa Sejarah
Fenomena ini kelihatan jelas kalau kita lihat data. Riset dari Pew Research Center pernah menunjukkan bahwa. Persepsi publik terhadap peristiwa sejarah yang sama bisa berbeda drastis antar generasi dan antar kelompok politik bukan karena faktanya beda, tapi karena “bingkai” cerita yang mereka terima beda.
Studi lain soal media literacy juga menemukan bahwa generasi muda cenderung membentuk pemahaman sejarah dari potongan video pendek dan meme, bukan dari sumber primer. Artinya, memori kolektif Gen Z hari ini sedang mereka bentuk ulang lewat algoritma, bukan lewat buku teks.
Ini bahaya sekaligus menarik. Bahaya karena rawan disinformasi dan manipulasi narasi. Menarik karena artinya kontrol atas memori kolektif nggak lagi 100% di tangan negara atau institusi besar. Siapa pun yang bikin konten viral, ikut punya andil membentuk ingatan bersama.
Ingatan yang Makin Cair
Kalau tren ini teruskan, secara sosiologis kasih gambaran yang cukup menantang.
Pertama, kita bakal makin sering lihat “perang narasi” soal isu-isu sejarah. Ini bakal makin cepat viral berkat AI generatif yang bisa bikin konten sejarah alternatif secara instan termasuk hoaks yang terkemas seolah dokumenter.
Kedua, institusi pendidikan formal (sekolah, kampus) akan makin kehilangan otoritas tunggal sebagai “penjaga ingatan resmi”. Tergantikan komunitas online dan kreator konten.
Ketiga, akan muncul fragmentasi memori kolektif yang makin tajam antar kelompok sosial-politik orang hidup dalam “gelembung ingatan”. Masing-masing, bukan lagi satu narasi bangsa yang sama.
Terus, Kita Ngapain?
Bukan berarti kita cuma bisa pasrah nonton drama ini. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, mulai dari level personal sampai kolektif:
- Rajin cross-check sumber sejarah, jangan cuma percaya satu narasi viral, apalagi dari akun anonim.
- Belajar baca konteks, bukan cuma potongan cerita sejarah itu kompleks, jarang hitam putih.
- Dukung ruang diskusi terbuka soal sejarah yang kontroversial, bukan malah dibungkam.
- Kritis sama algoritma sadari bahwa apa yang kamu lihat di media sosial udah “dikurasi”, bukan representasi utuh.
- Buat akademisi dan mahasiswa, ini momen penting buat riset lebih dalam soal bagaimana memori digital dibentuk karena ini medan pertarungan ideologi yang baru.
Pada akhirnya, ingatan bukan cuma soal masa lalu. Ingatan adalah arena perebutan makna tentang siapa kita hari ini, dan mau jadi apa kita besok. Jadi, sebelum kamu share ulang sesuatu yang “menguak sejarah tersembunyi”, tanya dulu: siapa yang untung kalau kamu percaya versi ini?