Tradisi sebagai Ingatan: Kenapa Masa Lalu Enggak Pernah Pergi?
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba jujur deh, kapan terakhir kali kamu ikut acara adat, terus di tengah-tengah acara itu kamu mikir. “ini tuh sebenernya buat apa sih?” Tapi tetap aja kamu ikutin ritualnya sampai selesai.
Nah, itu dia fenomena yang lagi rame banget hari ini: generasi muda mulai skeptis sama tradisi. Tapi anehnya nggak benar-benar ninggalin. Mereka cuma… mengemas ulang.
Lihat aja TikTok. Konten “POV: nikahan adat Jawa tapi generasi Z” atau reels tentang bikin sesajen versi minimalis viral banget.
Di satu sisi ada kekhawatiran serius soal bahasa daerah yang mau punah. Di sisi lain ada anak muda yang justru bikin ulang tarian tradisional versi remix buat konten mereka. Kontradiktif? Iya. Tapi justru di situlah menariknya.
Ketika Teori Lama Ketemu Realita Baru
Sosiolog Maurice Halbwachs punya istilah keren: collective memory. Intinya, ingatan itu bukan cuma urusan otak individu, ia terbentuk dan terjaga oleh komunitas.
Tradisi, dalam kerangka ini, adalah alat komunitas buat “mengingat bareng-bareng” siapa mereka.
Tapi ada twist dari Eric Hobsbawm lewat konsep invented tradition banyak tradisi yang kita anggap “sudah dari dulu” itu sebenarnya hasil konstruksi sosial yang relatif baru, terrancang buat menjaga kohesi sosial di tengah perubahan zaman.
Nah, gabungan dua teori ini pas banget buat baca fenomena sekarang: Gen Z nggak menolak tradisi, mereka cuma menuntut tradisi itu “terkonstruksi ulang” biar relevan sama dunia mereka yang serba digital.
Data Bicara: Antara Erosi dan Adaptasi
Di sisi kekhawatiran, catatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek menunjukkan ada 25 dari 718 bahasa daerah di Indonesia yang berstatus terancam punah 6 di antaranya kritis, dan 11 lainnya bahkan sudah punah.
Bahasa itu kendaraan utama tradisi lisan kalau bahasanya hilang, banyak pengetahuan leluhur ikut lenyap.
Tapi di sisi lain, riset lain justru menunjukkan optimisme: Gen Z ternyata tetap menunjukkan minat yang kuat buat melestarikan tradisi dan warisan budaya lokal aktif terlibat dalam tari tradisional, musik daerah. Sampai upacara adat hanya lewat jalur yang beda dari generasi sebelumnya, yaitu festival budaya dan konten digital.
Jadi bukan tradisi yang mati, tapi medium-nya yang berubah total. Dari mulut ke mulut dan upacara formal, sekarang tradisi hidup di caption Instagram dan algoritma FYP.
Proyeksi 5 Tahun ke Depan: Tradisi Versi Cloud
Kalau tren ini kita teruskan, dalam lima tahun ke depan kita bakal lihat tiga hal.
Pertama, tradisi bakal makin ter-platformisasi upacara adat tersiarkan live, museum budaya jadi konten AR, dan warisan tak benda terarsipkan dalam bentuk digital archive biar nggak hilang meski penuturnya wafat.
Kedua, bakal muncul jarak generasi yang makin lebar antara “penjaga tradisi otentik” (biasanya generasi tua yang paham makna ritual secara utuh) dengan “pewaris tradisi estetik” (anak muda yang paham bentuknya tapi bukan filosofinya). Ini bukan salah siapa-siapa, ini konsekuensi logis dari cara pengetahuan sekarang diwariskan.
Ketiga, tradisi yang bertahan adalah yang berhasil “menceritakan ulang” dirinya dengan bahasa Gen Z storytelling, estetika visual, dan makna personal bukan yang cuma mengandalkan kewajiban moral “karena ini warisan nenek moyang”.
Jadi, Harus Ngapain?
Buat akademisi dan mahasiswa: ini saat yang pas buat riset kolaboratif bareng komunitas adat, bukan cuma jadi peneliti yang datang-observasi-pergi. Dokumentasikan sebelum kehilangan penuturnya.
Buat Gen Z: kamu nggak harus jadi purist yang kaku soal tradisi. Tapi paling nggak, sebelum remix sesuatu jadi konten, coba cari tahu dulu maknanya. Karena tradisi yang dipahami itu jauh lebih kuat bertahan dibanding tradisi yang cuma jadi estetika kosong.
Pada akhirnya, tradisi memang berubah bentuk dari ritual jadi konten, dari lisan jadi digital. Tapi selama ada yang masih mau bertanya “ini artinya apa sih?”, ingatan kolektif itu masih hidup. Dan itu, mungkin, cara paling jujur buat masa lalu tetap relevan di masa kini.