Mengapa Kita Ingin terlihat, Diakui, dan Diingat di Internet?
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Pernahkah kita mengunggah sesuatu ke media sosial, lalu beberapa menit kemudian diam-diam membuka kembali aplikasi hanya untuk melihat apakah sudah ada yang memberi like, komentar, atau membagikannya?
Kalau pernah, tenang. Anda tidak sendirian.
Di era digital, menjadi manusia ternyata tidak cukup hanya dengan hidup. Kita juga seperti memiliki kebutuhan tambahan: ingin terlihat.
Kita memotret makanan sebelum memakannya, mengabadikan perjalanan sebelum benar-benar menikmatinya, dan kadang merasa sebuah pengalaman belum sepenuhnya terjadi jika belum masuk ke Instagram, TikTok, atau platform digital lainnya. Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: mengapa kita begitu ingin terlihat, akui, dan diingat di internet?
Ketika Kehidupan Berubah Menjadi Konten
Hari ini, internet bukan lagi sekadar tempat mencari informasi. Ia telah berubah menjadi ruang sosial tempat manusia membangun identitas, mencari pengakuan, bahkan meninggalkan jejak tentang dirinya.
Data terbaru menunjukkan betapa besar ruang kehidupan digital kita. Pada akhir 2025, Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet, sementara jumlah identitas pengguna media sosial mencapai sekitar 180 juta. Artinya, sebagian besar kehidupan sosial masyarakat Indonesia kini berlangsung, setidaknya sebagian, di balik layar digital.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Dulu, seseorang mungkin cukup ingin kenal oleh keluarga, tetangga, teman sekolah, atau rekan kerja. Sekarang, seseorang bisa membangun identitas di hadapan ribuan, bahkan jutaan orang yang tidak pernah temui secara langsung.
Kita tidak hanya bertanya, “Siapa saya?” tetapi juga mulai bertanya, “Bagaimana orang lain melihat saya?”
Satu unggahan dapat menjadi pernyataan identitas. Foto adalah pesan. Caption adalah narasi. Jumlah pengikut menjadi indikator popularitas. Sementara like, komentar, dan jumlah penonton perlahan berubah menjadi bentuk baru dari pengakuan sosial.
Dari “Cermin Sosial” ke Algoritma
Sosiologi sebenarnya sudah lama membicarakan kebutuhan manusia akan pengakuan. Dalam teori looking-glass self dari Charles Horton Cooley, kita memahami diri melalui bayangan tentang bagaimana orang lain melihat kita.
Internet membawa gagasan lama ini ke tingkat yang jauh lebih ekstrem.
Dulu, “cermin sosial” kita mungkin hanya keluarga dan lingkungan sekitar. Kini, cermin itu adalah layar ponsel yang terhubung dengan ratusan orang, ribuan akun, dan algoritma yang terus bekerja tanpa henti.
Masalahnya, algoritma tidak sekadar menjadi cermin. Ia juga menjadi kurator perhatian.
Apa yang viral kita anggap penting. Kemudian banyak juga kita tonton dianggap menarik. Apa yang mendapat sedikit respons kadang membuat seseorang merasa, entah kenapa, kurang berharga.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Popularitas digital tidak selalu sama dengan nilai manusia. Tetapi platform digital sering kali membuat keduanya terlihat seperti hal yang sama.
Sejumlah penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang representasi diri dan pencarian validasi. Like, komentar, estetika visual, dan respons audiens dapat memengaruhi cara pengguna membangun citra dirinya.
Sosiologi Digital: Kita Sedang Mencari Apa?
Dari sudut pandang sosiologi digital, keinginan untuk dilihat bukan sekadar persoalan narsisme. Ada kebutuhan sosial yang jauh lebih mendasar di baliknya: kebutuhan untuk merasa bahwa keberadaan kita berarti.
Manusia adalah makhluk sosial. Kita ingin orang menerima, terdengar, dan orang lain anggap penting. Media sosial kemudian menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: sebuah panggung yang hampir selalu tersedia.
Namun, ada satu persoalan besar.
Di internet, perhatian telah menjadi semacam mata uang.
Kita mulai belajar secara tidak sadar bahwa semakin banyak perhatian yang kita peroleh, semakin besar peluang kita mendapatkan pengaruh, jaringan, pekerjaan, popularitas, bahkan keuntungan ekonomi. Tidak mengherankan jika identitas digital kemudian menjadi sesuatu yang kita kelola secara serius.
Bahkan perkembangan AI membuat persoalan ini semakin kompleks. Teknologi kini memungkinkan kita membuat foto, video, tulisan, dan bahkan representasi diri yang semakin mudah termodifikasi. Di Indonesia sendiri, penggunaan AI dalam dunia kerja terus meningkat; survei PwC tahun 2025 mencatat 69% pekerja Indonesia pernah menggunakan AI dalam pekerjaannya, dengan 16% menggunakannya setiap hari.
Ke depan, bukan hanya pertanyaan “Apakah orang melihat saya?” yang penting.
Pertanyaannya bisa berubah menjadi: “Apakah orang masih bisa membedakan saya dengan representasi digital yang buatan oleh AI?”
Lima Tahun Lagi: Siapa yang Akan Mengingat Kita?
Dalam lima tahun ke depan, kemungkinan besar kehidupan sosial akan semakin terdokumentasi. AI akan membantu kita membuat konten, membangun personal brand, bahkan mungkin mengelola jejak digital kita secara otomatis.
Kita mungkin memiliki “versi digital” yang terus bekerja ketika kita sedang tidur.
Tetapi semakin mudah seseorang terlihat, semakin sulit pula untuk benar-benar bermakna.
Prediksi sosiologisnya sederhana: masyarakat digital akan mengalami pergeseran dari sekadar ekonomi perhatian menuju persaingan untuk mendapatkan kepercayaan dan keaslian. Ketika internet penuh konten otomatis dan identitas sintetis, manusia justru akan semakin mencari sesuatu yang terasa nyata.
Keaslian bisa menjadi kemewahan baru.
Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Bagi akademisi dan mahasiswa, tugasnya bukan hanya mempelajari teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi mengubah perilaku, relasi sosial, identitas, dan struktur kekuasaan.
Bagi Gen Z, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak mereka ajukan sebelum mengunggah sesuatu: “Apakah saya membagikan ini karena ingin berbagi, atau karena takut tidak teranggap ada?”
Tidak ada yang salah dengan ingin kita lihat. Tidak ada yang salah dengan ingin kita kenal. Itu sangat manusiawi.
Tetapi kita perlu mengingat satu hal: jangan sampai algoritma menentukan siapa diri kita hanya berdasarkan seberapa besar perhatian yang berhasil kita kumpulkan.
Sebab pada akhirnya, kita mungkin tidak benar-benar membutuhkan jutaan orang untuk melihat kita.
Kadang, kita hanya membutuhkan kemampuan untuk melihat diri sendiri—tanpa harus selalu menunggu internet memberikan tanda bahwa kita layak untuk diingat.