Siapa yang Menentukan Apa yang Layak Disebut Pengetahuan?
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Coba pikirkan satu kebiasaan sederhana yang mungkin kita lakukan hampir setiap hari: ketika ingin mengetahui sesuatu, kita membuka mesin pencari, media sosial, atau bertanya kepada AI.
Pertanyaannya bukan lagi, “Di mana saya bisa mendapatkan informasi?” Sekarang pertanyaannya justru lebih menarik: siapa yang menentukan informasi mana yang pantas muncul di hadapan kita?
Dulu, pengetahuan memiliki jalur yang relatif jelas. Ada guru, buku, kampus, perpustakaan, peneliti, dan media massa. Tentu saja, tidak semua orang setuju dengan sistem tersebut, tetapi setidaknya kita tahu siapa yang berperan sebagai penjaga gerbang.
Ketika Algoritma Mulai Menjadi Penjaga Gerbang Pengetahuan
Hari ini, penjaga gerbang itu berubah.
Algoritma menentukan video mana yang masuk ke beranda. Mesin pencari menentukan sumber mana yang muncul paling atas. AI generatif dapat merangkum, menjelaskan, bahkan memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tanpa sadar, kita semakin jarang bertanya, “Apakah ini benar?” Kita lebih sering bertanya, “Mengapa ini tidak muncul?”
Di sinilah persoalan sosiologisnya dimulai.
Dari Pengetahuan ke Popularitas
Dalam masyarakat digital, sesuatu tidak selalu menjadi penting karena paling benar. Kadang-kadang, sesuatu menjadi penting karena paling banyak dibicarakan.
Ini adalah perubahan besar dalam cara pengetahuan bekerja.
Sosiolog klasik seperti Peter L. Berger dan Thomas Luckmann pernah menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi manusia. Apa yang kita anggap sebagai “kenyataan” tidak sepenuhnya hadir begitu saja, melainkan dibentuk, diwariskan, dan dilembagakan dalam kehidupan sosial.
Di era digital, proses itu tidak lagi hanya dilakukan manusia.
Ada algoritma di dalamnya.
Platform digital mempelajari perilaku kita: apa yang kita klik, berapa lama kita menonton, apa yang kita sukai, bahkan apa yang membuat kita berhenti menggulir layar. Dari sana, sistem kemudian menyusun dunia digital yang terasa semakin personal.
Masalahnya sederhana tetapi serius: yang paling sering kita lihat perlahan terasa seperti yang paling benar.
Inilah yang bisa disebut sebagai algorithmic visibility. Pengetahuan yang terlihat terus-menerus memiliki peluang lebih besar untuk dipercaya dibandingkan pengetahuan yang sebenarnya akurat, tetapi tenggelam di halaman belakang internet.
Indonesia: Ketika Pengetahuan Bersaing dengan Konten
Indonesia adalah laboratorium sosial yang sangat menarik untuk melihat fenomena ini.
Dengan populasi pengguna internet yang sangat besar dan budaya media sosial yang begitu kuat, batas antara informasi, opini, hiburan, promosi, dan pengetahuan semakin tipis. Laporan Digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet dan media sosial telah mencapai ratusan juta akses pengguna.
Di sisi lain, penggunaan AI generatif juga tumbuh cepat, terutama di kalangan mahasiswa, pekerja muda, kreator konten, dan pelaku usaha.
Fenomena ini menghasilkan paradoks.
Akses terhadap pengetahuan semakin mudah, tetapi kemampuan untuk membedakan pengetahuan yang kuat dari informasi yang sekadar meyakinkan justru menjadi semakin penting.
Sekarang seseorang dapat membuat tulisan akademis dengan bantuan AI dalam beberapa menit. Video dengan narasi yang terdengar ilmiah bisa kita produksi tanpa harus melakukan penelitian mendalam. Sebuah opini dapat tampil dengan grafik, kutipan, dan istilah akademik yang membuatnya tampak sangat meyakinkan.
Di titik ini, kemampuan mencari informasi tidak lagi cukup. Kemampuan mempertanyakan informasi menjadi jauh lebih penting.
Secara sosiologis, kita sedang memasuki masa ketika otoritas pengetahuan mengalami pergeseran. Kampus bukan lagi satu-satunya tempat belajar. Guru bukan lagi satu-satunya sumber penjelasan. Buku tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju pengetahuan.
Tetapi, apakah semua yang tersedia secara digital otomatis memiliki kualitas yang sama?
Tentu tidak.
Lima Tahun ke Depan: Pertarungan Baru atas Realitas
Dalam dua hingga lima tahun ke depan, saya melihat satu perubahan besar: kita tidak hanya akan menghadapi banjir informasi, tetapi banjir realitas versi digital.
AI akan semakin mampu menghasilkan teks, gambar, suara, video, dan analisis yang sulit membedakan dari karya manusia. Mesin pencari juga perlahan berubah dari sekadar menunjukkan daftar tautan menjadi mesin pemberi jawaban.
Konsekuensinya cukup besar.
Kita mungkin semakin jarang mengunjungi sumber asli. Kemudian cukup membaca ringkasan. Seringkali Kita semakin jarang membandingkan beberapa perspektif karena satu jawaban terasa sudah cukup meyakinkan.
Dalam perspektif predictive sociology, masyarakat masa depan berpotensi terbelah bukan hanya berdasarkan kelas ekonomi atau akses teknologi, tetapi juga berdasarkan kemampuan memverifikasi realitas.
Akan ada kelompok yang mampu menggunakan AI secara kritis dan kelompok yang hanya mengonsumsi hasilnya.
Perbedaannya mungkin tampak kecil hari ini. Namun dalam beberapa tahun, kemampuan bertanya dengan baik, memeriksa sumber, memahami bias algoritma, dan membandingkan informasi bisa menjadi bentuk baru dari modal sosial dan modal intelektual.
Bagi akademisi dan mahasiswa, tantangannya bukan menolak AI. Itu sudah bukan pilihan realistis. Tantangannya adalah mengubah cara menggunakan teknologi.
Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Jangan hanya bertanya kepada AI, “Apa jawabannya?”
Mulailah bertanya:
“Dari mana kesimpulan ini berasal?”
“Data apa yang mendukungnya?”
“Siapa yang tidak terlihat dalam jawaban ini?”
“Sudut pandang siapa yang mungkin abai?”
Bagi Gen Z, kemampuan paling keren di masa depan mungkin bukan sekadar membuat konten yang viral. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk tidak mudah terkendalikan oleh apa yang viral.
Sementara bagi kampus dan dunia pendidikan, literasi digital harus bergerak melampaui kemampuan menggunakan aplikasi. Kita membutuhkan literasi algoritmik dan literasi AI.
Karena pada akhirnya, persoalan terbesar bukanlah apakah AI akan menggantikan manusia.
Pertanyaan yang jauh lebih mengganggu adalah ini:
Jika algoritma semakin menentukan apa yang kita lihat, AI semakin menentukan apa yang kita baca, lalu apakah kita masih benar-benar menentukan sendiri apa yang layak kita percaya sebagai pengetahuan?
Mungkin, di situlah pertarungan besar masyarakat digital sebenarnya sedang berlangsung.