Kita Menggunakan Teknologi, atau Teknologi Menggunakan Kita?

Oleh BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Kita Menggunakan Teknologi, atau Teknologi Menggunakan Kita?

Pernah merasa baru membuka ponsel untuk melihat satu pesan, tiba-tiba 30 menit berlalu?

Kita bilang, “Saya cuma sebentar.” Tetapi algoritma mungkin punya rencana lain.

Lebih lanjut Di sinilah pertanyaan menarik tentang kecerdasan buatan (AI) mulai muncul: sebenarnya kita yang menggunakan teknologi, atau perlahan teknologi yang sedang mengatur cara kita berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan?

Pertanyaan ini bukan lagi cerita masa depan. Ia sudah terjadi di sekitar kita.

Ketika AI mulai menjadi “teman kerja”

Di Indonesia, penggunaan AI berkembang sangat cepat. Data Microsoft dan LinkedIn menunjukkan bahwa pada 2024 sebanyak 92% knowledge workers di Indonesia sudah menggunakan generative AI di tempat kerja, jauh di atas rata-rata global 75%. Bahkan, 76% pekerja mengaku membawa sendiri perangkat atau layanan AI ke tempat kerja.

Menariknya, perkembangan itu belum berhenti.

Dalam Work Trend Index 2026, 33% pekerja Indonesia masuk kategori Frontier Professionals, yaitu pengguna AI tingkat lanjut. Angkanya lebih dari dua kali rata-rata global yang sebesar 16%. Sebanyak 93% pengguna AI di Indonesia mengatakan mereka menjadikan keluaran AI sebagai titik awal, bukan jawaban akhir.

Kemudian Ini menunjukkan sesuatu yang penting: AI bukan lagi sekadar aplikasi yang kita buka ketika membutuhkan bantuan. Ia mulai masuk ke dalam rutinitas sosial kita.

Kita bertanya kepada AI sebelum bertanya kepada teman. Kemudian Kita juga meminta AI merangkum sebelum membaca. Lalu meminta AI mencari ide sebelum berpikir panjang.

Teknologi mulai ikut membentuk kebiasaan berpikir.

Dari alat menjadi lingkungan sosial

Dalam sosiologi, teknologi tidak pernah benar-benar netral. Teknologi hadir dalam kehidupan sosial, lalu ikut memengaruhi perilaku manusia.

Konsep technological mediation menjelaskan bahwa teknologi dapat menjadi perantara antara manusia dan dunia. Smartphone, media sosial, mesin pencari, dan kini AI bukan hanya membantu kita melakukan sesuatu. Mereka juga memengaruhi apa yang kita lihat, apa yang kita anggap penting, dan bagaimana kita mengambil keputusan.

Bayangkan mahasiswa yang mengerjakan tugas.

Dulu ia mencari buku, membaca jurnal, berdiskusi, lalu menulis.

Sekarang alurnya bisa berubah:

pertanyaan → AI → jawaban → revisi → selesai.

Cepat? Jelas.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih serius: apa yang hilang dari proses tersebut?

Kalau AI selalu memberi jawaban sebelum manusia sempat bergulat dengan pertanyaan, apakah kemampuan berpikir kritis ikut melemah?

Di sinilah paradoks AI muncul.

AI dapat membuat manusia lebih produktif, tetapi penggunaan tanpa kendali juga berpotensi membuat manusia semakin bergantung.

Ketika manusia mulai beradaptasi dengan mesin

Fenomena ini bisa kita baca sebagai perubahan hubungan manusia–teknologi.

Pada tahap pertama, manusia menggunakan teknologi sebagai alat.

Pada tahap kedua, teknologi menjadi partner.

Sekarang kita memasuki tahap ketiga: teknologi mulai menjadi aktor dalam proses sosial.

Lebih lanjut Data Microsoft 2025 memperlihatkan 59% pemimpin bisnis di Indonesia mengatakan organisasinya sudah menggunakan agen AI untuk mengotomatisasi alur kerja. Sebanyak 48% pekerja bahkan mengatakan mereka lebih memilih AI dibanding rekan kerja karena AI tersedia 24 jam.

Nah, di sini persoalannya menjadi menarik.

Kalau sebuah organisasi mulai membagi pekerjaan kepada manusia dan agen AI, siapa sebenarnya yang menentukan cara kerja organisasi?

Manusia?

Atau sistem yang dirancang untuk mengejar efisiensi?

Sosiologi digital perlu melihat persoalan ini bukan hanya sebagai soal teknologi, tetapi sebagai perubahan relasi sosial.

Manusia akan semakin “bernegosiasi” dengan AI

Saya memperkirakan dalam 2–5 tahun ke depan, pertarungan utama bukan lagi antara manusia dan AI.

Yang lebih mungkin terjadi adalah negosiasi terus-menerus antara manusia dan AI.

Di kantor, mahasiswa mungkin memiliki “asisten AI”. Dosen menggunakan AI untuk membantu riset. Pemerintah menggunakan AI untuk membaca data masyarakat. UMKM menggunakan AI untuk pemasaran dan layanan pelanggan.

Bahkan pekerjaan baru akan muncul untuk mengawasi, melatih, mengaudit, dan mengarahkan agen AI.

Namun ada risiko baru: ketimpangan AI.

Bukan hanya kesenjangan antara orang yang punya internet dan yang tidak. Akan muncul kesenjangan antara orang yang mampu menggunakan AI secara strategis dengan mereka yang hanya menjadi pengguna pasif.

Data 2026 sudah memberikan sinyal tersebut. Sebanyak 85% pengguna AI di Indonesia khawatir tertinggal jika tidak cepat beradaptasi.

Artinya, AI tidak hanya menciptakan peluang.

Ia juga menciptakan tekanan sosial baru untuk terus beradaptasi.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Jawabannya bukan berhenti menggunakan AI.

Itu hampir mustahil.

Yang perlu kita lakukan adalah mengubah posisi kita dari pengguna pasif menjadi pengendali aktif.

Bagi akademisi, jangan hanya mengajarkan cara menggunakan AI. Ajarkan bagaimana mempertanyakan jawaban AI.

Bagi mahasiswa, jangan menjadikan AI sebagai mesin pemberi jawaban. Jadikan ia teman berdebat: “Apa yang salah dari argumenmu?”

Bagi Gen Z, jangan hanya belajar prompting. Belajarlah membaca konteks, memeriksa fakta, memahami manusia, dan mengambil keputusan.

Sebab kemampuan yang paling mahal di era AI mungkin bukan kemampuan membuat mesin berpikir.

Melainkan kemampuan manusia untuk tahu kapan mesin tidak boleh dipercaya.

Dan mungkin inilah pertanyaan BASMAR untuk kita semua:

Kita memang sedang menggunakan teknologi. Tetapi jangan-jangan, tanpa sadar, teknologi juga sedang menggunakan kita—membentuk kebiasaan, perhatian, pilihan, bahkan cara kita berpikir.

Jadi, siapa sebenarnya yang memegang kendali?

Kita yang menggunakan teknologi, atau teknologi yang menggunakan kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *