Bisakah Kita Membaca Budaya dari Apa yang Kita Makan?
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba deh scroll Instagram atau TikTok kamu sekarang. Berapa banyak konten makanan yang muncul?
Dari review street food, mukbang, sampai “day in my life” yang isinya makan mulu. Kita hidup di zaman di mana makanan bukan cuma soal kenyang tapi soal identitas, gengsi, bahkan ideologi.
Pertanyaannya: kalau makanan udah jadi bahasa, apa sebenarnya yang lagi “kita bicarakan” generasi kita lewat piring mereka?
Fenomena “authentic”
Perhatikan pola ini: anak muda rela antre dua jam demi kopi seharga sekali makan siang, tapi juga rajin buru makanan kaki lima “authentic” yang murah meriah.
Ada yang bangga jadi vegan demi bumi, ada yang justru pamer makan daging premium sebagai simbol sukses. Fenomena “foodie culture” ini nggak cuma soal selera ini soal siapa kita ingin terlihat sebagai apa.
Menariknya lagi, makanan sekarang jadi medan pertarungan identitas kultural.
Debat soal “makanan asli daerah mana”, war soal harga makanan halal, sampai fenomena food influencer yang mengubah warung kaki lima jadi ikon nasional dalam semalam. Semua ini bukan kebetulan.
Habitus dan Distinction
Sosiolog Pierre Bourdieu punya konsep yang pas banget buat baca fenomena ini: habitus dan distinction. Menurutnya, selera (taste) bukan murni preferensi personal itu produk kelas sosial.
Orang dari kelas menengah-atas cenderung mengonsumsi makanan yang mereka anggap “elit” atau “otentik” sebagai cara menegaskan posisi sosial mereka. Sementara kelas lain punya kode konsumsi sendiri.
Di sisi lain, Claude Fischler menyebut kondisi masyarakat modern soal makanan sebagai gastro-anomie kebingungan kolektif. Karena pilihan makanan yang makin banyak, informasi gizi yang saling kontradiksi. Sampai akhirnya orang mencari pegangan lewat tren, influencer, atau identitas kelompok (vegan, keto, halal-conscious, dsb).
Tambah lagi konsep glokalisasi globalisasi yang beradaptasi dengan lokalitas.
Makanya kita punya matcha latte tapi mereka kasih sentuhan gula aren, atau burger rendang. Ini bukan sekadar inovasi kuliner, tapi negosiasi identitas antara “kita” dan “dunia luar”.
Industri food delivery
Riset konsumsi digital beberapa tahun terakhir konsisten menunjukkan konten kuliner sebagai salah satu kategori paling engaging di media sosial Indonesia, khususnya di kalangan Gen Z. Pertumbuhan pesat industri food delivery dan maraknya bisnis kuliner rumahan yang lahir lewat media sosial juga jadi indikator kuat: makan bukan cuma kebutuhan biologis, tapi ekonomi perhatian.
Survei gaya hidup juga sering menunjukkan tren meningkatnya kesadaran soal makanan sehat, plant-based, dan etika konsumsi (seperti isu kesejahteraan hewan atau jejak karbon pangan) di kalangan anak muda urban. Meski implementasinya sering kali masih terbatas pada kelompok berpenghasilan menengah-atas. Ini menegaskan poin Bourdieu tadi: kesadaran “baik” pun bisa jadi penanda kelas.
Proyeksi Lima Tahun ke Depan
Kalau tren ini terus berjalan, ada beberapa hal yang mungkin makin kentara:
Pertama, makanan akan makin jadi alat personal branding bukan cuma di media sosial, tapi juga di dunia kerja dan pertemanan. “Kamu makan apa” bisa jadi proxy buat “kamu siapa”.
Kedua, polarisasi soal makanan bakal makin tajam: antara kelompok yang mengejar keberlanjutan (sustainability) dan kelompok yang tetap mengejar kenikmatan instan tanpa mikirin dampak jangka panjang.
Ketiga, kuliner lokal berpotensi makin diperebutkan sebagai identitas nasional di tengah gempuran globalisasi rasa perang klaim asal-usul makanan bakal makin sering muncul di ruang publik.
Keempat, teknologi (AI, food-tech, alternative protein) akan mengubah lagi makna “makanan otentik” dan ini bakal jadi arena baru buat pertarungan nilai budaya.
Terus, Kita Harus Ngapain?
Buat akademisi dan mahasiswa: ini lahan riset yang masih luas banget dari studi konsumsi, food justice, sampai politik identitas lewat kuliner. Jangan cuma diamati, tapi didokumentasikan dan dianalisis secara serius.
Buat kita yang cuma penikmat konten: minimal, mulai lebih kritis. Setiap kali kamu posting makanan atau ikut tren kuliner tertentu, coba tanya ke diri sendiri ini murni soal rasa, atau ada dorongan sosial yang lebih besar di baliknya?
Karena pada akhirnya, piring kita bukan cuma tempat makanan. Itu cermin kecil dari siapa kita, apa yang kita percaya, dan masyarakat seperti apa yang sedang kita bentuk satu suapan demi satu suapan.