Like, Follow, dan Pengakuan: Relasi Sosial di Era Media Digital

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Like, Follow, dan Pengakuan: Relasi Sosial di Era Media Digital

Coba jujur deh. Habis posting sesuatu di Instagram atau TikTok, kamu refresh berapa kali dalam sejam pertama? Dua? Lima? Dua puluh? Kalau jawabannya “banyak banget, tapi nggak sadar,” selamat, kamu bukan sendirian dan justru itulah yang lagi menarik perhatian para sosiolog belakangan ini.

Kejadian di Depan Mata Kita

Kita hidup di zaman di mana validasi datang dalam bentuk angka kecil di pojok layar. Like, comment, share, follower baru semuanya jadi semacam mata uang sosial.

Yang menarik, ini bukan cuma soal remaja galau cari perhatian. Dosen, CEO, sampai emak-emak arisan pun sama-sama ngecek notifikasi dengan intensitas yang mirip.

Media sosial nggak lagi sekadar tempat “update kabar,” tapi udah jadi panggung utama di mana identitas kita pertontonkan, nilai, dan validasi secara real-time.

Panggung Sandiwara Pindah ke Layar HP

Erving Goffman, sosiolog yang terkenal lewat teori dramaturginya, pernah bilang bahwa hidup sosial itu ibarat panggung sandiwara ada front stage tempat kita tampil rapi, dan back stage tempat kita jadi diri sendiri yang berantakan.

Bedanya, dulu panggung itu terbatas: cuma nyala pas ketemu orang. Sekarang? Panggungnya nyala 24 jam, penontonnya bisa ribuan orang asing, dan sutradaranya adalah algoritma.

Di sinilah teori pengakuan sosial dari Axel Honneth jadi relevan banget. Menurut Honneth, manusia butuh pengakuan dalam tiga level: cinta (relasi personal), hak (kesetaraan hukum), dan solidaritas (hargai kontribusinya oleh komunitas).

Nah, di media sosial, ketiga level itu kita ringkas jadi satu tombol kecil bernama “like.” Simpel, cepat, tapi juga rapuh karena pengakuan yang tadinya butuh proses sosial panjang, sekarang bisa kita dapat (dan hilang) dalam hitungan detik.

Kita Beneran Kecanduan, Bukan Cuma Perasaan

Ini bukan drama berlebihan. Pengguna media sosial di Indonesia tumbuh 26% dalam setahun dan tembus 180 juta identitas pengguna setara 62,9% dari total populasi.

Lebih gila lagi, rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, alias lebih dari tiga jam setiap hari.

Bayangin, itu waktu yang bisa kita pakai buat baca satu buku tebal per minggu, malah abis buat scroll.

Platformnya juga udah mulai bergeser ke konten super pendek dan cepat. TikTok jadi platform yang paling sering kita akses masyarakat Indonesia pada 2026, dengan persentase 31,8%.

Konten makin pendek, dopamin makin instan, dan siklus “posting-cek notif-posting lagi” makin cepat berputar.

Secara struktural, ini yang oleh sosiolog kita sebut sebagai pergeseran dari pengakuan yang stabil (dari keluarga, komunitas, institusi) ke pengakuan yang cair dan kompetitif di mana kamu harus terus tampil biar tetap “eksis” secara sosial.

Kita Bakal Kayak Gimana?

Kalau tren ini terus jalan tanpa rem, ada beberapa hal yang kemungkinan besar bakal makin kentara:

  • Ekonomi perhatian makin ekstrem. Orang bakal makin sibuk membangun “personal branding,” bahkan buat urusan sehari-hari yang dulu private banget.
  • Krisis identitas jadi hal yang biasa bicarakan terbuka, terutama di kalangan Gen Z dan Gen Alpha yang tumbuh besar dengan validasi digital sejak kecil.
  • Komunitas offline makin dianggap “opsional,” sementara komunitas online yang berbasis minat justru makin kuat menggantikan fungsi RT/RW atau kelompok arisan tradisional.
  • Muncul gerakan balik arah (digital minimalism, detox medsos) sebagai bentuk resistensi tapi kemungkinan besar hanya dilakukan segmen kecil yang sadar literasi digital.

Terus, Kita Harus Ngapain?

Bukan berarti kita harus anti-medsos dan hidup di gua. Tapi ada beberapa hal yang worth dicoba:

Pertama, sadar dulu bahwa kebutuhan akan pengakuan itu manusiawi banget, jadi jangan nyalahin diri sendiri kalau kamu peduli sama like.

Kedua, coba bangun sumber pengakuan yang lebih beragam nggak cuma dari layar, tapi juga dari relasi nyata yang lebih tahan lama.

Ketiga, buat yang di lingkungan akademik, ini justru ladang riset yang masih luas banget digarap: dari psikologi sosial, komunikasi, sampai kebijakan literasi digital.

Pada akhirnya, tombol like itu cuma alat. Yang jadi pertanyaan besar adalah: kita yang mengendalikan kebutuhan akan pengakuan itu, atau justru algoritma yang mengendalikan kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *