Pengetahuan Lokal di Era Modern: Punah atau Bangkit Lagi?
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Coba deh inget-inget, kapan terakhir kali kamu denger orang tua atau kakek-nenek cerita soal cara baca musim dari bintang, atau ramuan herbal buat obat batuk, tanpa buka Google dulu? Kalau jawabannya “lupa kapan”, kamu nggak sendirian.
Kita lagi hidup di era di mana pengetahuan lokal yang dulu terwariskan lewat cerita, praktik sehari-hari, dan pengalaman turun-temurun pelan-pelan kalah saing sama satu jawaban instan: “coba tanya AI aja.”
Ironisnya, ini kejadian di tengah gempuran diskusi soal “kembali ke akar”, “local wisdom”, dan gaya hidup sustainable yang lagi hits di media sosial.
Kita romantisasi pengetahuan lokal di caption Instagram, tapi di kehidupan nyata kita nggak benar-benar mempraktikkannya. Ada gap besar antara apresiasi simbolik dan penggunaan fungsional.
Ketika Pengetahuan Jadi Komoditas, Bukan Praktik
Dari sudut pandang sosiologi, ini bukan fenomena baru sebenarnya. Anthony Giddens pernah ngomongin soal disembedding. Proses di mana relasi sosial “tercabut” dari konteks lokalnya dan rentangkan lewat ruang dan waktu yang lebih luas, trgantikan sistem abstrak yang seragam.
Dulu pengetahuan itu nempel di tempat, di komunitas, di tubuh orang yang mempraktikkannya. Sekarang, semua bisa “akses” lewat layar, lepas dari konteks aslinya.
Ada juga yang namanya disenchantment, istilah dari Max Weber. Yaitu proses dunia yang makin rasionalisasi sehingga hal-hal mistis dan tradisional kehilangan otoritasnya.
Ramalan cuaca dari pergerakan burung kalah pamor sama BMKG. Pengobatan tradisional harus “buktikan secara ilmiah” dulu baru kita anggap sah. Pengetahuan lokal terus-menerus kita minta membuktikan diri di hadapan standar pengetahuan modern yang datang dari luar.
Data Bicara: Bukan Sekadar Feeling
Ini bukan cuma drama emosional, datanya juga nunjukkin pola serupa. UNESCO memperkirakan bahwa dari sekitar 7.000 bahasa yang masih terpakai di dunia, banyak di antaranya berada dalam kondisi terancam punah, dan setiap bahasa yang hilang biasanya membawa serta sistem pengetahuan ekologis dan budaya yang melekat padanya.
Indonesia sendiri, dengan ratusan bahasa daerah, jadi salah satu titik rawan dalam peta ini karena banyak bahasa daerah tuturkan oleh kelompok penutur yang makin menua dan makin sedikit.
Di sisi lain, riset-riset antropologi ekologi menunjukkan generasi muda di komunitas adat semakin jarang menguasai pengetahuan tradisional seperti nama-nama tumbuhan obat atau teknik bertani leluhur bandingkan generasi sebelumnya.
Pola yang konsisten muncul: makin tinggi akses pendidikan formal dan migrasi ke kota, makin lemah transmisi pengetahuan lokal antar generasi. Bukan berarti pendidikan itu jahat, tapi sistemnya memang belum terancang untuk merawat pengetahuan semacam ini.
Dua Skenario yang Mungkin Terjadi
Kalau kita main tebak-tebakan sosiologi prediktif, ada dua arah besar yang mungkin kejadian.
Skenario pertama, makin banyak pengetahuan lokal yang cuma jadi konten estetik terpajang di museum, kemas jadi produk wisata, atau jadi filter TikTok “aesthetic tradisional”, tapi kehilangan fungsi sosial aslinya.
Ini yang kita sebut sosiolog sebagai commodification of culture: budaya terjual, tapi maknanya kosong.
Skenario kedua, justru muncul gelombang balik. Krisis iklim, krisis pangan, dan kelelahan digital bikin orang terutama Gen Z yang katanya paling “online” mulai nyari makna dan ketahanan dari sistem yang lebih kecil dan lokal.
Riset dari beberapa negara Global South menunjukkan komunitas adat yang mempertahankan sistem pengetahuan lokalnya justru punya ketahanan pangan dan lingkungan yang lebih baik saat krisis. Ini bukan nostalgia, ini strategi bertahan hidup yang mulai kita lirik ulang.
Realistisnya, dua-duanya bakal jalan bareng. Sebagian pengetahuan lokal akan mati pelan-pelan tanpa kita sadari. Sementara sebagian lain justru hidup kembali secara sadar dan strategis oleh komunitas maupun akademisi.
Jadi, Kita Harus Ngapain?
Ini bukan soal romantisasi masa lalu atau anti-teknologi. Yang perlu kita lakukan itu lebih taktis.
Pertama, dokumentasi bukan cuma buat museum harus ada usaha aktif mencatat pengetahuan lokal dalam bentuk yang bisa akses generasi muda. Termasuk lewat platform digital itu sendiri.
Kedua, pengetahuan lokal perlu kita dudukkan setara, bukan cuma jadi “pelengkap” di kurikulum formal.
Ketiga, dan ini bagian buat kamu yang baca sampai sini: mulai dari hal kecil. Tanya ke orang tua atau tetua di sekitarmu soal hal yang mereka tahu tapi nggak pernah kamu tulis di mana-mana.
Karena pada akhirnya, pengetahuan lokal nggak butuh dikasihani. Dia butuh ruang buat tetap relevan dan itu cuma bisa kejadian kalau kita. Generasi yang paling banyak akses informasi sepanjang sejarah, mau berhenti sebentar buat dengerin sebelum semuanya keburu hilang.