Antre BBM di Makassar: Betulkah karena “Panic Buying”
BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital
Kalau minggu ini kamu buka status WhatsApp temanmu yang tinggal di Makassar, kemungkinan besar isinya bukan quotes galau atau story OOTD, tapi foto antrean motor mengular di SPBU.
Sejak subuh. Iya, subuh. Orang rela bangun sebelum azan cuma demi dapat “setetes” bensin.
Bukan cuma BBM. Elpiji 3 kg alias si tabung melon juga mendadak raib dari warung-warung. Warga sampai keliling dari pangkalan ke pasar tradisional cuma buat dapat satu tabung sisa.
Tambah lagi listrik byar-pet dan air bersih yang susah, lengkap sudah quad combo kesialan warga Makassar belakangan ini.
Pertanyaannya: ini beneran krisis pasokan, atau ada sesuatu yang lebih “manusia” di baliknya?
Ketika Panik Jadi Menular
Di sinilah sosiologi masuk dan bilang, “eh, tunggu dulu.” Pertamina sendiri lewat Sales Area Manager-nya menyebut antrean panjang ini dipicu panic buying masyarakat, bukan semata kelangkaan riil.
Menariknya, ini persis menggambarkan apa yang sosiolog Neil Smelser sebut sebagai collective behavior perilaku kolektif yang muncul bukan karena krisis objektif, tapi karena keyakinan kolektif bahwa krisis itu akan terjadi.
Logikanya sederhana: begitu satu orang lihat antrean panjang, dia ikut antre “jaga-jaga.” Tetangganya lihat dia antre, ikut juga.
Dalam hitungan jam, satu SPBU yang tadinya baik-baik saja berubah jadi lautan motor.
Kelangkaan yang tadinya cuma persepsi, perlahan jadi kelangkaan sungguhan karena stok yang harusnya cukup untuk seminggu, habis dalam sehari gara-gara semua orang mendadak “menimbun” di tangki motor masing-masing.
Ini juga versi lokal dari self-fulfilling prophecy ala Robert K. Merton: sesuatu yang awalnya cuma dugaan, jadi nyata gara-gara orang bertindak seolah dugaan itu benar.
Data Bicara, Bukan Cuma Drama
Biar nggak cuma baper, ini beberapa fakta di lapangan. Antrean di sejumlah SPBU Makassar tercatat mengular lebih dari 1 kilometer.
Pertamina mencatat rerata penyaluran elpiji harian pada Agustus 2026 justru 14,6 persen lebih tinggi dibanding Mei 2026 artinya pasokan sebenarnya naik, tapi permintaan naik lebih gila lagi.
Saking parahnya, Pertamina sampai melarang delapan sektor usaha (restoran, hotel, laundry, dll) pakai elpiji 3 kg yang harusnya subsidi buat rumah tangga kecil.
Pemkot Makassar bahkan sampai bikin aturan darurat: truk dan bus cuma boleh antre malam hari (21.00–05.00 WITA), kendaraan pribadi dengan metode plat Ganjil Genap sesuai tanggal. Sementara di sisi lain, polisi sudah turun menyelidiki dugaan penimbunan dan “mafia” BBM. Jadi ini bukan cuma soal psikologi massa ada dugaan permainan struktural di baliknya juga.
Siklus yang Bisa Berulang
Dari sudut predictive sociology, pola seperti ini biasanya nggak berhenti di satu kejadian.
Begitu kepercayaan publik terhadap distribusi logistik dasar (BBM, gas, listrik, air) sekali retak, masyarakat cenderung membentuk reflex panic jangka panjang begitu ada rumor kecil soal kelangkaan. Wwarga akan lebih cepat bereaksi dibanding sebelumnya, bahkan untuk isu yang sebenarnya kecil.
Kalau tata kelola distribusi dan komunikasi publik nggak dibenahi, ke depannya kota-kota besar di luar Jawa berpotensi mengalami siklus krisis kepercayaan yang berulang.
Bukan karena pasokan benar-benar habis, tapi karena warga sudah “trauma” dan memilih menimbun duluan sebelum krisis beneran datang. Ironisnya, perilaku antisipatif inilah yang justru mempercepat kelangkaan itu sendiri.
Terus, Kita Harus Ngapain?
Ini bukan cuma PR pemerintah atau Pertamina. Transparansi data stok secara real-time ke publik bisa memutus rantai kepanikan sejak awal. Orang nggak akan buru-buru antre kalau mereka percaya info yang mereka dapat.
Selain itu, penegakan hukum terhadap dugaan penimbunan harus konsisten, bukan cuma reaktif pas viral.
Buat kita sebagai warga (apalagi Gen Z yang jago bikin narasi di media sosial), penting juga sadar: ikut menyebarkan foto antrean tanpa konteks bisa jadi bahan bakar panik itu sendiri.
Kadang, hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan bukan ikut antre jam 4 pagi, tapi menahan diri buat nggak ikut arus panik.
Karena pada akhirnya, krisis logistik itu nyata. Tapi krisis kepercayaan? Itu yang sering bikin krisis logistik jadi berkali-kali lipat lebih parah.