Mengapa Like Menjadi Ukuran Pertemanan?
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Pernah mengalami situasi seperti ini? Kamu mengunggah foto, tulisan, atau pencapaian yang menurutmu cukup penting. Lalu, beberapa menit kemudian, tangan mulai refleks membuka media sosial lagi. Bukan untuk membaca ulang isi unggahan, tetapi untuk melihat satu hal: berapa yang sudah memberi like?
Lebih menarik lagi ketika sahabat dekat ternyata tidak memberikan like.
“Eh, dia lihat postinganku, kok tidak nge-like?”
Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan perubahan besar dalam cara kita memahami hubungan sosial. Di era digital, pertemanan tidak lagi hanya terukur dari seberapa sering seseorang hadir dalam kehidupan kita. Kadang, sebuah klik kecil di layar justru kita anggap sebagai bukti perhatian. Sebaliknya, tidak adanya like dapat terasa seperti sinyal dingin: Kita masih berteman, kan?
Ketika Pertemanan Masuk ke Dalam Hitungan
Dulu, kita mungkin mengenali teman dari percakapan panjang, kesediaan membantu, atau kehadirannya ketika hidup sedang berantakan. Sekarang, hubungan sosial memiliki lapisan baru: metrik digital.
Jumlah pengikut, views, komentar, repost, hingga like membuat hubungan manusia semakin mudah kita hitung. Pertanyaannya, apakah sesuatu yang mudah kita hitung otomatis lebih bermakna?
Di sinilah persoalannya.
Like sebenarnya bukan sekadar tombol. Dalam ruang digital, ia dapat berubah menjadi simbol pengakuan. Satu like mungkin tidak berarti banyak. Namun, seratus like bisa membuat seseorang merasa didukung. Sebaliknya, unggahan yang sepi dapat memunculkan pertanyaan yang lebih personal: Apakah saya tidak cukup menarik? Apakah teman-teman saya tidak peduli?
Tanpa sadar, kita mulai menerjemahkan hubungan sosial ke dalam angka.
Dari Teori Pertukaran Sosial sampai Validasi Digital
Dalam sosiologi klasik, hubungan sosial sering dipahami sebagai proses pertukaran. Manusia memberi perhatian, lalu berharap mendapatkan respons. Kita membantu teman, kemudian berharap ketika membutuhkan bantuan, hubungan itu bekerja dua arah.
Media sosial membawa pola lama tersebut ke dalam bentuk baru.
Kamu memberi like pada unggahan teman. Temanmu kemudian diharapkan melakukan hal yang sama. Kamu menonton story-nya, ia menonton story-mu. Kamu berkomentar, ia juga sebaiknya memberikan respons.
Hubungan kemudian memiliki semacam “pembukuan sosial” yang tidak tertulis.
Tidak ada yang secara resmi mencatatnya, tentu saja. Tetapi otak kita sering melakukannya.
Dalam pendangan Sosiologi digital melihat fenomena ini sebagai perubahan cara pengakuan sosial bekerja. Jika dulu pengakuan terjadi melalui tatap muka, kini algoritma dan antarmuka platform ikut mengatur siapa yang terlihat, siapa yang ramai, dan siapa yang tampak sendirian.
Like akhirnya menjadi mata uang sosial. Murah untuk diberikan, tetapi bisa mahal secara emosional.
Angka yang Membentuk Cara Kita Merasa
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. DataReportal mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial pada awal 2025. Sementara itu, Instagram memiliki potensi jangkauan sekitar 103 juta pengguna di Indonesia. Artinya, kehidupan sosial digital bukan lagi ruang tambahan. Ia sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan orang.
Penelitian juga menunjukkan bahwa like memiliki dimensi sosial dan emosional. Studi terhadap 182 remaja menemukan bahwa pengaruh jumlah like terhadap emosi dapat bergantung pada kecenderungan seseorang melakukan perbandingan sosial dan mencari umpan balik dari orang lain. Semakin kuat kebutuhan untuk membandingkan diri dan memperoleh validasi, semakin sensitif pula seseorang terhadap respons audiensnya.
Tetapi kita perlu berhati-hati: like bukan penyebab tunggal semua persoalan sosial. Penelitian lain menunjukkan bahwa yang lebih penting sering kali bukan sekadar jumlah like, melainkan seberapa besar seseorang menginvestasikan harga dirinya pada like tersebut.
Jadi, masalahnya mungkin bukan pada tombolnya.
Masalahnya muncul ketika kita mulai percaya bahwa tombol itu menentukan nilai diri kita.
Lima Tahun ke Depan: Pertemanan Makin Personal atau Makin Terukur?
Dalam beberapa tahun ke depan, kita kemungkinan akan hidup dalam lingkungan digital yang semakin cerdas. AI dapat membantu membuat konten, merekomendasikan teman, menyusun respons, bahkan memprediksi apa yang mungkin kita sukai.
Ironisnya, ketika teknologi semakin pintar memahami perhatian manusia, hubungan sosial justru berpotensi semakin terukur.
Kita mungkin akan melihat bentuk baru dari apa yang bisa disebut sebagai pertemanan berbasis visibilitas. Orang yang sering muncul di feed terasa dekat, meskipun jarang bertemu. Sebaliknya, sahabat yang tidak aktif di media sosial bisa perlahan terasa “jauh”.
Inilah tantangan sosiologi digital masa depan: bukan sekadar apakah teknologi menghubungkan manusia, melainkan hubungan seperti apa yang sedang dibentuk oleh teknologi tersebut?
Prediksi lainnya, generasi muda akan semakin sadar terhadap kelelahan akibat validasi digital. Bisa jadi, beberapa tahun mendatang justru muncul tren baru: hubungan yang lebih privat, komunitas kecil, ruang digital tertutup, dan pertemanan yang tidak selalu membutuhkan bukti publik.
Mungkin kita sedang bergerak dari era “lihat saya” menuju “pahami saya.”
Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Bagi akademisi, fenomena like perlu dipandang lebih serius sebagai bagian dari perubahan struktur hubungan sosial. Bukan sekadar perilaku pengguna media sosial, tetapi sebagai proses baru dalam pembentukan status, identitas, dan pengakuan.
Bagi mahasiswa, media sosial bisa menjadi laboratorium sosial yang sangat menarik. Cobalah bertanya: mengapa seseorang merasa harus membalas like? Mengapa unggahan sepi terasa memalukan? Mengapa kita kadang lebih takut tidak direspons daripada tidak didengar?
Dan untuk Gen Z, mungkin ada satu pertanyaan yang lebih penting dari semua angka di layar:
Apakah orang yang selalu memberi like benar-benar selalu ada ketika kita membutuhkannya?
Like memang menyenangkan. Tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi pertemanan yang sesungguhnya seharusnya tidak runtuh hanya karena seseorang lupa menekan ikon berbentuk hati.
Sebab pada akhirnya, hubungan manusia terlalu rumit untuk diringkas menjadi satu angka kecil di bawah sebuah unggahan.