Media Sosial Sedang Menciptakan Budaya Baru

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Bukan lagi sekadar tempat berbagi foto, video, atau status. Media sosial perlahan berubah menjadi ruang tempat masyarakat Indonesia belajar bagaimana harus berpikir, berbicara, tampil, bahkan menentukan apa yang dianggap penting.

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari. Ada orang yang bangun tidur lalu membuka TikTok. selebihnya mahasiswa yang mencari referensi kuliah lewat Instagram atau YouTube. Ada Gen Z yang lebih percaya pengalaman pengguna di media sosial daripada iklan resmi. Bahkan, sesuatu yang awalnya dianggap sepele bisa menjadi pembicaraan nasional hanya dalam hitungan jam.

Pertanyaannya: apakah media sosial hanya mengikuti budaya masyarakat, atau justru sedang menciptakan budaya baru?

Jawabannya mungkin sedikit mengganggu: keduanya terjadi sekaligus.

Ketika Algoritma Ikut Membentuk Kebiasaan Kita

Dalam sosiologi klasik, budaya terbentuk melalui proses interaksi sosial. Manusia belajar norma, nilai, bahasa, gaya hidup, dan perilaku dari lingkungan sosialnya.

Namun di era digital, lingkungan sosial itu tidak lagi hanya keluarga, sekolah, kampus, kantor, atau komunitas.

Kini ada algoritma.

Apa yang kita lihat berulang kali di layar dapat memengaruhi apa yang kita anggap normal. Video yang mendapatkan jutaan tayangan dianggap penting. Pendapat yang viral terasa lebih benar. Gaya hidup yang terus muncul di feed perlahan terlihat sebagai sesuatu yang biasa.

Di sinilah konsep social learning, symbolic interactionism, dan teori masyarakat jaringan menjadi semakin relevan. Identitas sosial tidak hanya dibangun melalui interaksi tatap muka, tetapi juga melalui likes, komentar, followers, views, dan berbagai simbol digital.

Dengan kata lain, media sosial bukan cuma cermin masyarakat. Ia ikut menjadi mesin pembentuk masyarakat.

Indonesia: Negeri yang Semakin Digital

Perubahannya bukan fenomena kecil.

Data APJII menunjukkan penetrasi internet Indonesia pada 2025 telah mencapai 80,66%, atau sekitar 229,4 juta pengguna.

Sementara itu, DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9% populasi.

Yang menarik, laporan Digital 2026 Indonesia juga mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 21 jam 50 menit per minggu di media sosial, termasuk konsumsi video online. Rata-rata pengguna berinteraksi dengan sekitar 7,7 platform setiap bulan.

Kemudian Angka-angka ini memberi pesan sederhana: media sosial sudah menjadi lingkungan sosial, bukan sekadar aplikasi.

Dan ketika sebuah ruang kita gunakan berjam-jam setiap minggu oleh ratusan juta orang, tentu ruang tersebut akan menghasilkan kebiasaan, norma, bahasa, simbol, bahkan konflik baru.

Dari Budaya Nongkrong ke Budaya Viral

Dulu, popularitas seseorang sangat bergantung pada lingkungan sosialnya.

Sekarang seseorang bisa terkenal tanpa pernah kita temui.

Seorang mahasiswa bisa menjadi content creator. Pedagang kecil dapat membangun reputasi melalui TikTok. Sebuah restoran bisa penuh karena satu video viral. Sebaliknya, seseorang juga dapat kehilangan reputasi hanya karena satu unggahan.

Kita sedang memasuki budaya visibility: semakin terlihat, semakin dianggap ada.

Masalahnya, logika algoritma sering kali tidak membedakan apakah sesuatu itu penting atau sekadar menarik perhatian.

Akibatnya muncul budaya baru: budaya viral.

Yang lucu cepat menyebar. Lalu kontroversial mendapatkan komentar. Yang emosional memancing interaksi. Yang biasa-biasa saja sering tenggelam.

Di sinilah persoalan sosiologisnya menjadi serius.

Kalau masyarakat mulai memberikan penghargaan sosial berdasarkan jumlah perhatian, apakah kita akhirnya hidup untuk mendapatkan perhatian?

Predictive Sociology: Apa yang Terjadi 2–5 Tahun Lagi?

Jika tren ini berlanjut, dalam dua sampai lima tahun ke depan kita kemungkinan melihat sedikitnya empat perubahan.

Pertama, identitas digital semakin penting daripada identitas offline.
Reputasi seseorang akan semakin sering dinilai dari jejak digitalnya: apa yang ia unggah, komentari, sukai, dan bagikan.

Kedua, profesi berbasis perhatian akan semakin berkembang.
Kemampuan membangun komunitas, membuat konten, dan mempertahankan perhatian dapat menjadi modal sosial baru.

Ketiga, konflik sosial akan semakin cepat.
Perbedaan pendapat tidak lagi membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membesar. Satu potongan video dapat memicu perdebatan nasional dalam beberapa jam.

Keempat, akan muncul generasi yang semakin terbiasa hidup bersama algoritma.

Mereka bukan hanya menggunakan teknologi.

Mereka tumbuh bersama teknologi.

Ini penting bagi para akademisi dan mahasiswa. Kita tidak cukup hanya meneliti berapa banyak orang menggunakan media sosial. Kita perlu bertanya: nilai apa yang sedang dibentuk oleh media sosial? Siapa yang menentukan apa yang terlihat? Siapa yang memperoleh keuntungan dari perhatian kita? Dan siapa yang tertinggal karena tidak mampu mengikuti logika digital?

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Kita tidak perlu memusuhi media sosial. Itu hampir tidak mungkin dan juga tidak perlu.

Yang kita butuhkan adalah literasi sosial digital.

Mahasiswa perlu belajar membaca algoritma, bukan hanya menggunakan aplikasi.

Gen Z perlu memahami bahwa viral tidak selalu berarti benar.

Akademisi perlu memperluas penelitian dari sekadar “penggunaan media sosial” menuju perubahan budaya akibat media sosial.

Pemerintah juga perlu melihat ruang digital sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat, bukan sekadar persoalan teknologi.

Sebab pada akhirnya, pertarungan terbesar di era digital bukan lagi sekadar siapa yang menguasai teknologi.

Pertarungannya adalah siapa yang mampu membentuk budaya.

Dan mungkin tanpa kita sadari, pertarungan itu sedang berlangsung di layar ponsel kita—setiap hari.

Saya melihatnya sederhana: ketika algoritma mulai ikut menentukan apa yang kita lihat, sukai, dan percayai, maka algoritma sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial kita.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “Apakah media sosial mengubah masyarakat?”

Tetapi:

“Masyarakat seperti apa yang sedang kita ciptakan melalui media sosial?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *