Marak Menjual Aplikasi AI: Inovasi atau Menjual Harapan?

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Marak Menjual Aplikasi AI: Inovasi atau Menjual Harapan?

Coba buka TikTok, Instagram, atau bahkan marketplace digital. Belakangan muncul fenomena yang menarik: semakin banyak orang menawarkan aplikasi berbasis AI dengan janji yang terdengar menggiurkan.

“Bikin aplikasi tanpa coding.”

“Modal HP bisa punya aplikasi sendiri.”

“Buat aplikasi AI, lalu jual dan dapat cuan.”

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Ada kelas yang secara terbuka menawarkan pembelajaran membuat aplikasi AI dari nol hingga menjualnya, bahkan menyediakan aplikasi siap pakai untuk dijual kembali. Ada pula produk digital yang menawarkan kemampuan membuat website dan aplikasi dengan AI tanpa latar belakang teknologi.

Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: apakah kita sedang menyaksikan demokratisasi teknologi, atau justru lahirnya industri baru yang menjual harapan?

AI dan Demokratisasi Kemampuan

Kalau kita lihat dari sisi positif, perkembangan ini sebenarnya luar biasa.

Dulu, membuat aplikasi membutuhkan programmer, kemampuan coding, server, desain antarmuka, serta waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sekarang, AI dapat membantu seseorang membuat prototipe aplikasi hanya dengan instruksi bahasa sehari-hari.

Dalam perspektif digital sociology, perubahan ini menunjukkan bergesernya distribusi kekuasaan teknologi.

Kemampuan menciptakan produk digital tidak lagi sepenuhnya berada di tangan programmer. Guru, mahasiswa, UMKM, kreator, bahkan orang yang sebelumnya tidak pernah menyentuh kode program mulai memiliki kesempatan untuk bereksperimen.

Masalahnya muncul ketika kemampuan membuat sesuatu kita samakan dengan kemampuan membangun bisnis.

Bisa membuat aplikasi bukan berarti aplikasinya orang butuhkan.

Di sinilah kita perlu berhenti sebentar.

Ketika AI Bertemu Ekonomi Perhatian

Fenomena ini bisa kita baca melalui konsep attention economy. Di ruang digital, perhatian manusia telah menjadi komoditas.

Konten yang menjanjikan “cara cepat menghasilkan uang” jauh lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan tentang proses bisnis yang panjang dan membosankan.

Karena itu, kata-kata seperti “cuan”, “tanpa coding”, “otomatis”, “mudah”, dan “viral” menjadi sangat powerful.

Tidak mengherankan jika ekosistem digital kemudian melahirkan produk yang bukan hanya menjual teknologi, tetapi juga menjual bayangan tentang masa depan.

Kita tidak lagi sekadar membeli aplikasi.

Kadang kita membeli harapan bahwa aplikasi tersebut akan mengubah kehidupan ekonomi kita.

Kasus Indonesia: Dari “Bikin AI” ke “Jual AI”

Fenomena tersebut terlihat jelas dalam ekosistem digital Indonesia. Sebuah layanan pembelajaran AI, misalnya, secara terang-terangan menggunakan narasi bahwa daripada membeli aplikasi AI milik orang lain, pengguna bisa membuat aplikasi sendiri kemudian menjualnya. Materinya mencakup pembuatan aplikasi, website, hingga strategi menjual aplikasi kepada klien.

Pada saat yang sama, pasar digital juga dipenuhi berbagai produk AI yang menawarkan pembuatan artikel, caption, skrip TikTok, ide bisnis, generator gambar, hingga berbagai kebutuhan pemasaran. Bahkan ada platform lokal yang menawarkan ratusan template AI dengan sistem berlangganan.

Ini menarik.

Karena ketika semua orang diajarkan cara menjual produk digital, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang sebenarnya menjadi pengguna akhirnya?

Jangan-jangan kita memasuki situasi ketika semua orang ingin menjadi penjual, sementara jumlah orang yang benar-benar membutuhkan produknya tidak bertambah secepat jumlah penjual.

Di sinilah ekonomi digital bisa berubah menjadi semacam ekonomi harapan.

Jangan Membunuh Inovasinya, Tetapi Kritik Narasinya

Saya tidak melihat fenomena menjual aplikasi AI sebagai sesuatu yang buruk.

Sebaliknya, ini bisa menjadi pintu masuk yang sangat penting bagi Indonesia untuk memperluas literasi teknologi.

Yang perlu dikritisi adalah narasinya.

AI memang dapat mempercepat pekerjaan. Terknologi tersebut dapat menurunkan hambatan teknis. Bahkan AI bahkan memungkinkan seseorang yang bukan programmer membuat produk digital.

Tetapi AI tidak otomatis menciptakan pasar, kepercayaan, kreativitas, reputasi, dan kebutuhan sosial.

Aplikasi yang dibuat dalam lima menit tetap membutuhkan alasan mengapa orang harus menggunakannya.

Bagi mahasiswa, Gen Z, akademisi, dan pelaku UMKM, pertanyaan paling penting bukan lagi:

“Aplikasi AI apa yang bisa saya jual?”

Pertanyaan yang lebih dewasa adalah:

“Masalah sosial apa yang bisa saya selesaikan dengan AI?”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Karena masa depan AI Indonesia seharusnya bukan tentang siapa yang paling cepat menjual aplikasi.

Masa depan AI seharusnya tentang siapa yang paling mampu memahami manusia.

Dan mungkin, di tengah demam “AI bisa bikin cuan”, justru kemampuan membaca kebutuhan manusia itulah yang akan menjadi teknologi paling mahal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *