Mengapa Sulit Berhenti Scroll Padahal Tidak Ada yang Penting?

Mengapa Sulit Berhenti Scroll Padahal Tidak Ada yang Penting?

Pernahkah kamu membuka TikTok, Instagram, YouTube Shorts, atau platform lain hanya untuk “sebentar”? Lima menit kemudian menjadi tiga puluh menit. Anehnya, setelah selesai scroll, kamu bahkan sulit mengingat apa yang baru saja terlihat.

Tidak ada berita penting. nggak ada informasi yang benar-benar kita butuhkan. Tidak ada keputusan besar yang harus kita buat.

Tetapi tangan tetap menggeser layar.

Mengapa kita sulit berhenti scroll, bahkan ketika tidak ada yang penting?

Jawabannya mungkin lebih mengganggu daripada yang kita kira: bukan kita yang sepenuhnya mengendalikan perhatian, tetapi perhatian kita yang sedang perebutkan.

Baca juga: AI Bersikap Diskriminatif? Apa Buktinya?

Bukan Sekadar Kebiasaan

Dalam psikologi, perilaku seperti ini dapat jelas melalui konsep variable reward, yaitu pemberian penghargaan yang tidak selalu muncul dengan pola yang pasti.

Setiap kali kita melakukan scroll, kita tidak tahu apa yang akan muncul berikutnya.

Mungkin video lucu.

atau berita mengejutkan.

Bahkan seseorang yang kita kenal.

bisa jadi konten yang sangat menarik.

Ketidakpastian itulah yang membuat otak terus mencari.

Konsep ini berkaitan dengan teori operant conditioning dari B.F. Skinner. Perilaku yang sesekali menghasilkan penghargaan cenderung dipertahankan. Dalam lingkungan digital, scroll menjadi semacam tombol pencarian hadiah.

Masalahnya, algoritma tidak perlu membuat semua konten menarik.

Cukup membuat kita percaya bahwa konten berikutnya mungkin menarik.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.

Kita tidak lagi hanya menggunakan media sosial. Kita hidup dalam ekonomi perhatian, ketika waktu, fokus, dan perhatian manusia menjadi sumber daya yang diperebutkan.

Indonesia dan Budaya “Scroll Tanpa Tujuan”

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Pagi hari, sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur, sebagian orang sudah membuka ponsel. Saat menunggu kendaraan, makan, antre, bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain, layar kembali menjadi pelarian.

Kita sering menyebutnya “iseng”.

Namun jika perilaku tersebut dilakukan jutaan orang secara berulang, ia bukan lagi sekadar kebiasaan individual.

Ia telah menjadi fenomena sosial.

Generasi digital Indonesia tumbuh dalam lingkungan ketika informasi tidak pernah benar-benar berhenti. Timeline tidak memiliki halaman terakhir. Video pendek tidak memiliki akhir. Setelah satu konten selesai, algoritma langsung menawarkan konten berikutnya.

Dulu kita mencari informasi.

Sekarang informasi mencari kita.

Perubahan ini penting karena mengubah hubungan manusia dengan waktu. Waktu luang yang dahulu mungkin berguna untuk berpikir, berbicara, membaca, atau bahkan merasa bosan, kini perlahan terisi oleh layar.

Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai kehilangan kemampuan untuk tidak melakukan apa-apa.

Padahal kebosanan bukan selalu musuh.

Bisa jadi, kebosanan adalah ruang tempat manusia berpikir.

Ketika Algoritma Menjadi “Pengatur Perhatian”

Di sinilah kita perlu melihat persoalan secara lebih kritis.

Algoritma platform digital dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Semakin lama seseorang bertahan, semakin banyak peluang muncul untuk menampilkan konten, iklan, dan rekomendasi berikutnya.

Artinya, terdapat kepentingan ekonomi di balik perhatian kita.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi:

“Mengapa saya kecanduan scroll?”

Tetapi:

“Siapa yang mendapatkan keuntungan ketika saya terus scroll?”

Pertanyaan ini penting bagi akademisi dan mahasiswa karena fenomena scroll bukan hanya persoalan psikologi individual. Ia juga menyangkut sosiologi, ekonomi digital, desain teknologi, budaya populer, dan kekuasaan.

Kita sedang hidup dalam masyarakat yang ekonominya semakin bergantung pada kemampuan mempertahankan perhatian manusia.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Kebijakan digital tidak cukup hanya berbicara tentang keamanan data atau perlindungan anak. Kita juga perlu mulai membicarakan hak atas perhatian.

Platform digital perlu lebih transparan mengenai bagaimana algoritma rekomendasi bekerja. Pendidikan literasi digital juga harus bergerak lebih jauh.

Literasi digital bukan hanya kemampuan membedakan berita benar dan palsu.

Literasi digital juga berarti kemampuan menyadari kapan teknologi sedang menggunakan perhatian kita.

Sekolah dan perguruan tinggi dapat mengajarkan attention literacy: kemampuan mengenali desain digital yang mendorong keterlibatan berlebihan, memahami mekanisme rekomendasi, dan membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara sadar.

Masa depan mungkin bukan tentang manusia yang berhenti menggunakan media sosial.

Itu hampir mustahil.

Tantangannya justru bagaimana manusia tetap menjadi pengendali perhatian dirinya sendiri.

Karena persoalan terbesar era digital mungkin bukan kita kekurangan informasi.

Kita justru hidup dalam kondisi kelebihan informasi, tetapi kekurangan perhatian.

Dan mungkin, ketika tangan kita kembali melakukan scroll tanpa tujuan malam ini, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

“Saya sedang mencari sesuatu, atau sebenarnya sedang dicari oleh algoritma?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *