Alasan Revolusi AI Lebih Besar daripada Revolusi Internet?
Bayangkan kehidupan tanpa internet. Sulit, tetapi masih mungkin. Kita masih bisa belajar dari buku, bekerja di kantor, berbelanja di toko, atau berbicara langsung dengan orang lain. Namun, bagaimana jika suatu hari kita kehilangan kemampuan untuk menggunakan kecerdasan buatan?
Pertanyaan ini terdengar berlebihan. Tetapi justru di situlah masalahnya.
Revolusi AI mungkin bukan sekadar revolusi teknologi. Ia berpotensi menjadi revolusi cara manusia berpikir, bekerja, mengambil keputusan, bahkan mendefinisikan pengetahuan.
Internet menghubungkan manusia dengan informasi. AI mulai melakukan sesuatu yang lebih jauh: mengolah, menafsirkan, menghasilkan, dan merespons informasi atas nama manusia.
Dari Mengakses Informasi Menjadi Memproduksi Pengetahuan
Revolusi internet mengubah pertanyaan manusia dari “Apa yang saya tahu?” menjadi “Di mana saya bisa menemukan informasi?”
Google, media sosial, marketplace, dan platform digital membuat informasi tersedia hampir seketika.
AI menggeser pertanyaan tersebut lagi: “Bisakah mesin membantu saya berpikir?”
Di sinilah teori Society of the Mind dan gagasan tentang distributed cognition menjadi relevan. Kognisi manusia tidak lagi sepenuhnya berada di dalam kepala. Sebagian proses berpikir mulai didistribusikan kepada mesin.
Mahasiswa menggunakan AI untuk merangkum jurnal. Dosen menggunakannya untuk membuat materi. Pengusaha menggunakannya untuk menganalisis pasar. Pemerintah mulai mengeksplorasi AI untuk pelayanan publik.
Masalahnya: ketika mesin semakin mampu membantu manusia berpikir, siapa yang sebenarnya sedang mengambil keputusan?
Indonesia: AI Masuk Sebelum Kita Selesai Beradaptasi dengan Internet
Indonesia memberikan contoh yang menarik.
Masyarakat baru saja beradaptasi dengan ekonomi digital, media sosial, e-commerce, dan kerja jarak jauh. Kini AI datang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi.
Generasi muda bahkan dapat menggunakan AI untuk membuat tulisan, gambar, video, kode, presentasi, hingga ide bisnis tanpa harus menguasai seluruh proses teknisnya.
Ini adalah peluang besar. Tetapi juga menciptakan persoalan serius.
Jika mahasiswa terbiasa menyerahkan proses berpikir kepada AI, apakah pendidikan masih mengajarkan cara berpikir, atau hanya mengajarkan cara memeriksa hasil mesin?
Jika perusahaan dapat menggantikan sebagian pekerjaan administratif dengan AI, apakah produktivitas meningkat tanpa mengorbankan manusia?
Dan jika pemerintah menggunakan AI dalam pengambilan keputusan publik, siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma melakukan kesalahan?
Revolusi AI Membutuhkan Kebijakan yang Lebih Berani
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya berbicara tentang literasi digital. Kita membutuhkan literasi AI.
Literasi AI bukan sekadar kemampuan menggunakan ChatGPT atau aplikasi generatif lainnya. Lebih penting dari itu adalah kemampuan memahami bagaimana AI menghasilkan keputusan, mengenali bias, memverifikasi informasi, menjaga data pribadi, dan mengetahui kapan manusia harus mengambil alih keputusan.
Pendidikan juga perlu berubah. Sekolah dan universitas tidak boleh sekadar melarang AI. Sebaliknya, mereka harus mengajarkan cara berpikir bersama AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir sendiri.
Sebab ancaman terbesar AI bukanlah ketika mesin menjadi terlalu pintar.
Ancaman yang lebih besar adalah ketika manusia menjadi terlalu malas untuk berpikir.
Internet mengubah cara kita terhubung dengan dunia. AI berpotensi mengubah cara kita memahami dunia.
Karena itu, revolusi AI mungkin memang lebih besar daripada revolusi internet.
Bukan karena mesinnya lebih canggih.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, teknologi mulai masuk ke wilayah yang selama berabad-abad dianggap sebagai wilayah paling manusiawi: berpikir.