Kehidupan Setelah AI: Kita Bukan Lagi Manusia yang Sama

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Kehidupan Setelah AI: Kita Bukan Lagi Manusia yang Sama

Coba jujur deh. Kapan terakhir kali kamu nulis caption Instagram, jawaban tugas. Atau bahkan chat gebetan tanpa nanya ke AI dulu “eh bagusnya gimana ya”?

Kalau jawabannya “baru tadi pagi”, selamat. Kamu bagian dari eksperimen sosial terbesar abad ini yang nggak pernah kita tanda tangani informed consent-nya.

AI sekarang bukan lagi barang canggih yang pamerin di demo produk. Dia udah jadi bagian dari cara kita mikir, kerja, bahkan berduka dan jatuh cinta.

Anak sekolah pakai buat PR, dosen pakai buat bikin soal, HRD pakai buat nyaring CV. Bahkan terapis digital berbasis AI udah mencoba orang buat curhat jam 2 pagi.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah AI akan mengubah masyarakat kita”, karena itu udah kejadian. Pertanyaannya: kita berubah jadi apa?

Pola Sosial yang Diam-Diam Terbentuk

Sosiolog lama kayak Ulrich Beck pernah ngomongin “risk society”. Masyarakat yang hidupnya kelilingi risiko buatan manusia sendiri, bukan lagi bencana alam.

AI hari ini adalah versi mutakhir dari itu: risiko yang kita ciptakan sendiri lewat algoritma, tapi dampaknya nggak kelihatan sampai tiba-tiba kita sadar skill tertentu udah nggak laku lagi.

Yang lebih relevan lagi, teori Manuel Castells soal “network society” jadi kenyataan telak.

Kekuasaan sekarang bukan cuma soal siapa yang punya modal, tapi siapa yang punya akses ke sistem AI paling canggih.

Muncul kelas sosial baru: mereka yang “mengarahkan” AI (prompt engineer, data scientist, pemilik platform) versus mereka yang cuma jadi objek yang arahkan AI (buruh gig, admin, customer service).

Ini bukan sekadar kesenjangan ekonomi klasik, tapi kesenjangan kognitif, siapa yang ngerti cara “bicara” sama mesin dan siapa yang cuma bisa nurut sama hasilnya.

Data yang Bikin Deg-degan

Ini bukan cuma drama TikTok. Studi berbasis metodologi Frey-Osborne yang sering kita pakai buat ngukur risiko otomasi di ASEAN nunjukkin. Pekerjaan di Indonesia yang berisiko tinggi tergantikan otomasi perkirakan menyentuh sekitar 56 persen, nggak jauh beda sama Filipina yang 57 persen. Dan di bawah Vietnam yang tembus 70 persen.

World Economic Forum bahkan sempat memproyeksikan puluhan juta pekerjaan bakal berubah bentuk dalam hitungan tahun, bukan dekade.

Yang menarik secara sosiologis, yang paling rentan bukan cuma buruh pabrik kayak stereotip lama soal robot menggantikan kerja fisik.

Pekerjaan kerah putih yang repetitif, admin, input data, bahkan sebagian analisis keuangan, ikut kena.

Polarisasi kerja jadi makin tajam: yang tersisa banyak itu pekerjaan level atas yang butuh kreativitas dan pengambilan keputusan kompleks, atau pekerjaan level bawah yang butuh sentuhan manusia langsung (perawat, tukang pijat, tukang kebun).

Kelas menengah, yang selama ini jadi tulang punggung mobilitas sosial, justru paling terancam kepepet di tengah.

“AI fluency” bakal jadi kapital sosial baru  

Kalau tren ini kita teruskan, ada beberapa hal yang cukup masuk akal buat proyeksi.

Pertama, “AI fluency” bakal jadi kapital sosial baru, sekelas ijazah atau koneksi keluarga di generasi sebelumnya.

Kedua, kita bakal lihat munculnya identitas sosial baru berdasarkan hubungan sama AI itu sendiri, ada yang jadi “AI maximalist” yang outsource hampir semua keputusan hidup ke mesin, ada yang jadi kelompok resistan yang bangga hidup “manual” sebagai bentuk gaya hidup sekaligus previlese.

Ketiga, institusi pendidikan bakal kelabakan nyusul, karena kurikulum yang dirancang buat dunia kerja lima tahun lalu udah nggak relevan buat dunia kerja lima tahun ke depan.

Buat Gen Z!

Bukan waktunya panik, tapi juga bukan waktunya woles doang. Buat mahasiswa dan Gen Z, ini saatnya geser fokus dari “menghafal skill teknis yang gampang ditiru AI” ke skill yang susah direplikasi: penilaian etis, empati kontekstual, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, bukan cuma jawaban yang tepat.

Buat akademisi, riset soal ketimpangan akses AI di daerah non-urban Indonesia jadi PR mendesak yang belum banyak digarap.

Dan buat kita semua, mungkin pertanyaan paling penting bukan “AI bisa gantiin kerjaan gue nggak”, tapi “kalau AI bisa mikir buat gue, apa yang bikin gue tetap manusia?”

Karena pada akhirnya, revolusi teknologi selalu ninggalin pertanyaan sosiologis yang sama dari dulu. Siapa yang untung, siapa yang ketinggalan, dan siapa yang berhak nentuin arahnya. Bedanya sekarang, mesin ikut duduk di meja perundingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *