Mengapa Kita Butuh Institusi? Keteraturan dalam Kehidupan Sosial

BASMAR | Pemerhati Peradaban Digital

Mengapa Kita Butuh Institusi? Keteraturan dalam Kehidupan Sosial

Pernah membayangkan seperti apa hidup tanpa aturan? Tidak ada sekolah yang mengatur proses belajar, tidak ada hukum yang membatasi tindakan, tidak ada keluarga dengan peran yang jelas, bahkan tidak ada kesepakatan sederhana tentang bagaimana kita harus mengantre.

Sekilas terdengar seperti kebebasan total. Tidak ada yang mengatur. Tidak ada yang melarang. Kita bebas melakukan apa saja.

Masalahnya, kehidupan sosial mungkin akan berubah menjadi sangat melelahkan.

Ketika Semua Orang Bebas, Siapa yang Menjaga Keteraturan?

Hari ini kita hidup di tengah paradoks yang menarik. Banyak orang semakin kritis terhadap institusi. Pemerintah dipertanyakan, media dicurigai, kampus dikritik, bahkan keluarga sebagai institusi paling dekat dengan kehidupan manusia pun mengalami perubahan besar.

Di media sosial, misalnya, siapa pun dapat menjadi sumber informasi. Seseorang tidak perlu menjadi jurnalis untuk menyampaikan berita, tidak perlu menjadi ahli untuk memberikan nasihat, bahkan tidak perlu memiliki pengetahuan mendalam untuk membentuk opini publik.

Kondisi ini semakin besar skalanya. DataReportal mencatat bahwa pada akhir 2025 terdapat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, sementara identitas pengguna media sosial mencapai sekitar 180 juta. Artinya, ruang digital kini bukan sekadar tempat hiburan. Ia telah menjadi ruang sosial raksasa tempat orang berinteraksi, berdebat, percaya, curiga, dan membangun identitas.

Tetapi di tengah kebebasan tersebut, muncul pertanyaan sederhana: kalau semua orang merasa berhak menentukan aturannya sendiri, bagaimana kehidupan bersama bisa tetap berjalan?

Di sinilah institusi menjadi penting.

Institusi: Aturan yang Membuat Kita Tidak Saling Bertabrakan

Dalam sosiologi, institusi bukan sekadar gedung pemerintahan, sekolah, kampus, atau kantor. Institusi adalah pola aturan, nilai, norma, dan peran yang membuat kehidupan sosial menjadi lebih teratur.

Émile Durkheim, salah satu tokoh penting sosiologi, melihat bahwa masyarakat membutuhkan seperangkat aturan bersama agar individu tidak kehilangan arah. Tanpa keteraturan, manusia dapat mengalami anomie, yaitu situasi ketika norma sosial melemah dan orang tidak lagi memiliki pegangan yang jelas tentang apa yang dianggap pantas atau tidak.

Teori ini terasa semakin relevan hari ini.

Kita sedang menyaksikan munculnya pola sosial baru: orang semakin terhubung secara digital, tetapi belum tentu semakin terikat secara sosial. Bahkan memiliki ribuan pengikut, tetapi belum tentu memiliki komunitas. Kita menerima informasi setiap detik, tetapi belum tentu tahu mana yang dapat dipercaya.

Institusi pada dasarnya bekerja seperti “sistem navigasi sosial”. Ia tidak selalu sempurna, bahkan sering membuat kita frustrasi. Namun, tanpa sistem tersebut, setiap orang harus terus-menerus menegosiasikan hampir semua hal dari nol.

Bayangkan jika setiap pagi kita harus menentukan sendiri aturan lalu lintas. Capek, bukan?

Masalahnya Bukan Institusinya, tetapi Kepercayaan Kita

Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Dunia hari ini tidak hanya menghadapi krisis institusi, tetapi juga krisis kepercayaan terhadap institusi.

Laporan Edelman Trust Barometer 2025 menunjukkan bahwa secara global 61 persen responden memiliki tingkat grievance atau rasa kekecewaan yang sedang hingga tinggi terhadap sistem sosial. Kelompok yang merasa kecewa cenderung kehilangan kepercayaan kepada pemerintah, bisnis, media, maupun organisasi masyarakat sipil.

Ini penting. Sebab institusi tidak dapat bekerja hanya dengan aturan. Institusi membutuhkan legitimasi.

Orang mematuhi lampu merah bukan hanya karena takut ditilang. Mereka mematuhinya karena ada kesepakatan sosial bahwa aturan tersebut melindungi semua orang.

Ketika kepercayaan hilang, masyarakat mulai mencari “institusi alternatif”. Influencer menggantikan pakar. Grup percakapan menggantikan media arus utama. Algoritma menggantikan guru sebagai sumber pengetahuan. Bahkan kecerdasan buatan mulai menjadi tempat manusia bertanya tentang kehidupan.

Bukan berarti semuanya buruk. Tetapi kita perlu menyadari bahwa institusi lama sedang berhadapan dengan institusi baru yang tumbuh di dunia digital.

Lima Tahun ke Depan: Siapa yang Akan Mengatur Kita?

Jika pola saat ini terus berkembang, lima tahun ke depan kita kemungkinan tidak akan hidup tanpa institusi. Justru sebaliknya: kita akan hidup dalam masyarakat dengan lebih banyak institusi, tetapi bentuknya semakin tidak terlihat.

Algoritma akan menentukan informasi yang kita lihat. Platform digital akan memengaruhi cara kita bekerja dan berbelanja. Kecerdasan buatan akan membantu mengambil keputusan. Komunitas daring akan membentuk identitas dan solidaritas baru.

Tantangan terbesar bukan apakah institusi akan tetap ada, melainkan: siapa yang mengendalikan institusi baru tersebut?

Kita mungkin merasa bebas ketika memilih apa yang ingin ditonton. Padahal, pilihan itu bisa saja telah dipersempit oleh algoritma.

Di sinilah predictive sociology menjadi menarik. Masyarakat masa depan kemungkinan bergerak menuju pertarungan antara dua hal: kebebasan individu dan kebutuhan akan keteraturan kolektif. Terlalu banyak aturan dapat menghasilkan masyarakat yang kaku. Tetapi terlalu sedikit aturan dapat menciptakan kekacauan dan ketidakpastian.

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bagi akademisi, tantangannya adalah tidak lagi melihat institusi hanya sebagai konsep dalam buku teks. Kita perlu membaca perubahan institusi yang sedang berlangsung di dunia digital.

Bagi mahasiswa, penting untuk memahami bahwa menjadi kritis bukan berarti menolak semua institusi. Kritik yang baik justru membantu institusi menjadi lebih transparan dan relevan.

Sementara bagi Gen Z, pertanyaannya mungkin lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: jangan sampai kita sibuk membongkar semua aturan lama, tetapi lupa membangun aturan baru yang lebih baik.

Institusi memang tidak selalu menyenangkan. Kadang birokratis, lambat, dan penuh masalah. Namun kehidupan sosial membutuhkan sesuatu yang mampu menyatukan jutaan kepentingan yang berbeda.

Karena pada akhirnya, manusia bukan makhluk yang hidup sendirian.

Kita membutuhkan aturan, kepercayaan, dan kesepakatan bersama agar kebebasan satu orang tidak berubah menjadi masalah bagi orang lain. Mungkin itulah alasan paling sederhana mengapa institusi masih sangat kita butuhkan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: apakah institusi masih relevan? Tetapi, mampukah kita membangun institusi yang layak untuk dipercaya?

Data digital Indonesia terbaru
Edelman Trust Barometer 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *