Saat Data Lebih Dipercaya daripada Pengalaman Manusia
Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital
Pernahkah kamu melihat pengemudi ojek mengabaikan rute yang ia hafal bertahun-tahun karena aplikasi bilang, “jalan tercepat lewat sini”? Atau ketika keluhan pasien terasa kurang kita percaya sebelum angka dari hasil lab muncul?
Di kampus pun begitu: jawaban yang terdengar rapi dari AI kadang lebih meyakinkan daripada cerita mahasiswa yang benar-benar mengalami masalahnya.
Kita hidup di masa ketika data bukan lagi sekadar alat bantu. Ia pelan-pelan berubah menjadi “wasit” paling kita percaya. Angka kita anggap netral, dashboard tampak objektif, dan rekomendasi algoritma terdengar lebih masuk akal daripada intuisi manusia.
Padahal, data selalu punya cerita di belakangnya: siapa yang mengumpulkan, apa yang terukur, dan yang paling penting siapa yang tidak masuk hitungan.
Ketika angka tampak lebih jujur dari manusia
Fenomena ini terasa dekat di Indonesia. Rekomendasi belanja, kredit, konten TikTok, hingga seleksi kerja makin banyak tentukan oleh jejak digital.
Kita menilai dari klik, lokasi, durasi menonton, riwayat transaksi, sampai cara mengetik. Repotnya, pengalaman manusia yang rumit sering terpaksa masuk ke kolom-kolom sederhana.
Dalam sosiologi digital, kondisi ini bisa terbaca lewat gagasan datafikasi: kehidupan sosial kita terjemahkan menjadi data agar bisa terhitung, kita prediksi, dan terkelola. Teori “masyarakat jaringan” Manuel Castells juga relevan. Kuasa kini tidak hanya berada pada institusi besar, tetapi juga pada jaringan platform yang mengatur arus informasi.
Masalahnya begini: yang terukur belum tentu yang paling penting. Seorang guru bisa terlihat “kurang produktif” di dashboard karena angka unggah materi rendah, padahal ia sedang mendampingi murid yang mengalami persoalan berat.
Seorang pencari kerja bisa tersingkir oleh sistem penyaring CV karena kosakata pengalamannya tak cocok dengan kata kunci mesin. Angka memberi ringkasan; manusia membawa konteks.
Data Indonesia: besar, cepat, dan makin menentukan
Skalanya jelas bukan kecil. DataReportal mencatat sekitar 212 juta orang Indonesia telah menggunakan internet pada awal 2025 setara 74,6% populasi. Sementara itu, survei APJII 2025 melaporkan penetrasi internet mencapai 80,66%.
Angkanya berbeda karena metode dan periode pengukuran berbeda, tetapi pesannya sama: ruang digital sudah menjadi ruang sosial utama.
Di kalangan muda, AI makin biasa mereka pakai. Survei APJII terhadap 8.700 responden menunjukkan Gen Z merupakan kelompok pengguna AI terbesar, yaitu 43,7%. Untuk tujuan penggunaan, 43,98% terkait edukasi dan pembelajaran.
Laporan Stanford AI Index 2026 bahkan mencatat 95% mahasiswa Indonesia dalam survei Chegg 2025 pernah memakai AI generatif untuk mendukung studi.
Angka-angka itu seru, tetapi jangan langsung dibaca sebagai bukti bahwa semua orang mendapat manfaat yang sama. Di sinilah sosiologi digital perlu masuk. Akses internet memang meluas, namun kualitas perangkat, literasi, bahasa, jaringan pertemanan, dan kemampuan mengecek informasi tidak tersebar merata.
Algoritma cenderung memperkuat pola yang sudah ada: yang punya sumber daya digital lebih baik, biasanya lebih mudah memetik keuntungan.
lima tahun ke depan: bukan kiamat, tapi seleksi sosial baru
Dalam dua hingga lima tahun, keputusan berbasis data kemungkinan akan makin hadir di pendidikan, layanan publik, rekrutmen, kesehatan, dan ekonomi kreator. Bukan berarti manusia akan disingkirkan total. Yang lebih mungkin terjadi adalah lahirnya pembagian baru: mereka yang paham cara membaca, mempertanyakan, dan memakai AI akan lebih punya kendali; sisanya berisiko hanya menjadi objek penilaian sistem.
Kita juga akan melihat “kepercayaan otomatis”: kecenderungan menerima hasil AI karena tampilannya cepat, rapi, dan penuh percaya diri. Bahayanya bukan hanya hoaks. Bahaya yang lebih halus adalah saat kita berhenti bertanya, “Data ini mewakili siapa?” dan “Siapa yang dirugikan kalau mesin salah?”
Jadi, apa yang perlu dilakukan?
Bagi akademisi, jangan hanya mengajarkan cara memakai AI; ajarkan juga cara membongkar bias, memeriksa sumber, dan membaca konteks sosialnya. Bagi mahasiswa, gunakan AI sebagai teman diskusi, bukan joki berpikir. Cek ulang jawabannya, bandingkan dengan pengalaman lapangan, dan berani tulis sudut pandangmu sendiri.
Untuk Gen Z, skill paling mahal nanti bukan sekadar bisa membuat prompt keren. Skill paling langka adalah tetap punya penilaian manusiawi: empati, rasa ingin tahu, keberanian meragukan angka, dan kemampuan mendengar cerita yang tidak masuk spreadsheet.
Data memang penting. Tapi kalau pengalaman manusia selalu kalah oleh dashboard, kita bukan sedang menjadi lebih objektif. Kita mungkin cuma sedang memberi mesin hak untuk menentukan siapa yang layak dipercaya.
Sumber data: DataReportal Digital 2025 Indonesia; APJII 2025; Stanford AI Index Report 2026.