Hutan Terbakar, Algoritma berpesta: ikut nonton atau bertindak.

Oleh: BASMAR | Pengamat Peradaban Digital

Hutan Terbakar, Algoritma berpesta: ikut nonton atau bertindak.

Ketika Penderitaan Lingkungan Berubah Menjadi Komoditas Perhatian

Bayangkan sebuah hutan terbakar. Pohon-pohon hangus, asap menutup langit, satwa kehilangan habitat, dan warga harus menghirup udara yang tidak lagi sehat.

Lalu seseorang mengeluarkan ponsel.

Rekam.

Upload.

Beberapa menit kemudian, kobaran api berubah menjadi video pendek. Muncul musik dramatis, teks besar, judul provokatif, lalu komentar berdatangan: “Parah banget!”, “Ini di mana?”, “Siapa yang salah?”

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Api membakar hutan. Tetapi algoritma membakar perhatian manusia.

Fenomena karhutla Indonesia pada Agustus 2026 memperlihatkan bagaimana bencana lingkungan dengan cepat masuk ke dalam sirkulasi konten digital. Kebakaran kawasan Gunung Bromo, misalnya, menjadi perhatian setelah video kobaran api beredar di media sosial. Sementara di Kalimantan, video seorang remaja bernama Rudiansyah yang membantu memadamkan karhutla dengan kostum Superman ikut menjadi viral.

Menariknya, yang viral bukan selalu skala kerusakannya. Kadang justru cerita yang paling dramatis.

Algoritma Tidak Peduli Hutan

Dalam sosiologi digital, kita perlu memahami bahwa media sosial bukan sekadar tempat orang berbagi informasi. Platform digital bekerja dengan sistem algoritmik yang memilih konten mana yang memperoleh perhatian lebih besar.

Di sinilah teori attention economy menjadi relevan.

Herbert Simon sejak lama mengingatkan bahwa ketika informasi semakin melimpah, perhatian manusia justru menjadi sumber daya yang langka. Dalam perkembangan media sosial, perhatian kemudian memiliki nilai ekonomi: semakin banyak orang berhenti, menonton, menyukai, membagikan, dan berkomentar, semakin besar pula nilai sebuah konten.

Masalahnya, algoritma tidak mengenal konsep “ini penting bagi masa depan ekologis manusia.”

Algoritma membaca engagement.

Video dengan api besar mungkin lebih menarik daripada penjelasan 10 menit mengenai ekologi hutan. Tangisan warga lebih mudah menyentuh emosi daripada grafik perubahan tutupan lahan. Bahkan kemunculan seorang “Superman” di tengah karhutla jauh lebih mudah menjadi cerita daripada ribuan hektare ekosistem yang rusak.

Bukan berarti video tersebut buruk.

Justru di sinilah paradoksnya.

Konten viral bisa membantu menyadarkan publik, tetapi pada saat yang sama bencana bisa direduksi menjadi tontonan.

Indonesia: Ketika Karhutla Menjadi Konten

Kita sudah melihat pola ini berulang.

Pada Agustus 2026, video kebakaran Gunung Bromo beredar luas di media sosial ketika api melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Beberapa pemberitaan menyebut area terdampak mencapai puluhan hingga ratusan hektare, sementara penanganan terus berlangsung.

Di Kalimantan, cerita Rudiansyah bahkan memperlihatkan sisi lain dari ekonomi perhatian. Remaja yang ikut membantu memadamkan api dengan kostum Superman menjadi viral dan kemudian mendapat perhatian pejabat pemerintah.

Ini menunjukkan bahwa media sosial memang memiliki kekuatan luar biasa.

Ia dapat membuat masalah lokal menjadi percakapan nasional dalam hitungan jam.

Namun pertanyaan kritisnya: setelah video turun dari FYP, apa yang tersisa?

Apakah kita masih membicarakan penyebab kebakaran?

Bahkan kita bertanya siapa yang bertanggung jawab?

Kemudian Apakah kita membahas tata kelola hutan, pembukaan lahan, perubahan iklim, penegakan hukum, dan keselamatan masyarakat?

Atau kita sudah pindah ke video berikutnya?

Dari Bencana Menjadi Komoditas Perhatian

Di sinilah konsep komodifikasi perhatian menjadi penting.

Dalam ekonomi digital, perhatian manusia dapat dikonversi menjadi nilai. Like, view, share, komentar, bahkan durasi menonton menjadi sinyal yang membantu platform menentukan konten mana yang layak terus diedarkan. Penelitian tentang ekonomi perhatian menunjukkan bahwa platform digital memang bekerja dalam ekosistem yang menghubungkan perhatian pengguna, data, iklan, dan keuntungan.

Akibatnya, ada risiko yang cukup mengganggu:

Semakin dramatis penderitaan, semakin besar peluangnya mendapatkan perhatian.

Hutan terbakar menjadi gambar.

Asap menjadi video.

Korban menjadi narasi.

Bencana menjadi engagement.

Dan perhatian menjadi uang.

Tetapi kita tidak boleh berhenti pada kritik terhadap algoritma. Pengguna juga punya peran. Kita ikut menentukan apa yang menjadi viral melalui tindakan sederhana: menonton sampai selesai, membagikan, memberi komentar, atau membuat ulang konten.

Karena itu, masalahnya bukan sekadar “algoritma jahat.”

Masalahnya adalah hubungan antara algoritma, manusia, emosi, dan kepentingan ekonomi.

Pertanyaan yang perlu perenungan

Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat konten bencana.

Ketika melihat video hutan terbakar, jangan hanya bertanya:

“Wah, kok bisa separah itu?”

Coba tanyakan juga:

“Mengapa video ini viral?”

“Siapa yang memperoleh perhatian dari penderitaan ini?”

Dan yang paling penting:

“Setelah perhatian kita habis, apakah hutannya masih kita pedulikan?”

Inilah tantangan besar sosiologi digital.

Kita hidup dalam zaman ketika realitas tidak cukup hanya terjadi. Realitas harus terlihat, dibagikan, dan mendapatkan perhatian agar dianggap penting.

Padahal hutan tidak membutuhkan likes.

Hutan membutuhkan perlindungan.

Dan mungkin, di tengah pesta algoritma yang terus mencari perhatian kita, tugas manusia justru sederhana: jangan sampai kita lebih tertarik pada video tentang kebakaran daripada menyelamatkan hutan yang sedang terbakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *